Minggu, 17 Februari 2008

PERSIAPAN SEBELUM MENIKAH 1

PERSIAPAN DIRI SEBELUM MENIKAH
MENURUT TUNTUNAN RASULULLAH

Keluarga merupakan salah satu mata rantai kehidupan yang paling esensial bagi manusia. Dari keluarga manusia hadir di dunia ini QS al-Nisa’ (4) : 1. Dalam keluarga manusia tumbuh dan berkembang. Melalui keluarga manusia memenuhi kebutuhan biologisnya secara wajar dan regenerasi dapat dicapai dengan cara yang sah. Keluarga wadah yang sangat efektif pendidikan pertama dan utama bagi anak-anak. Keluarga merupakan lembaga sosialisasi bagi anak, semua pengalaman anak pada waktu kecilnya akan mempunyai pengaruh dalam kepribadian, dalam penentuan sikap, tindakan dan cara menghadapi persoalan hidup, terutama dalam kehidupan keluarga (Zakiah Daradjat, 1974, h. 8).Di sisi lain, keluarga merupakan lembaga sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk mengubah suatu organisme biologis menjadi manusia (William J. Goode, h. 16) Keluarga wadah satu-satunya untuk menghindarkan diri dari penyakit dan penyimpangan seksual (Ibn Musthafa, 1993, h. 63-65)
Keluarga yang kurang serasi, sangat besar kemungkinan anggotanya menjadi parasit bagi masyarakat (Soerjono Soekamto,1992, h. 40), dapat dikatakan tulang punggung masyarakat (Quraish Shihab, 1992, h. 253), yang mempunyai andil yang besar bagi bangun atau runtuhnya suatu masyarakat. Bagi muslim, Rasulullah saw. merupakan tokoh untuk dijadikan panutan, karena dalam berbagai kesempatan Rasul selalu memberikan perhatian yang besar terhadap persiapan pernikahan. Apalagi pada masa sekarang, keluarga dihadapkan pada situasi dan kondisi yang sangat sulit dan rawan permasalahan. Banyak terjadi tindakan kekerasan dalam rumah tangga antara suami isteri, dan antara anak dan orang tua. Keluarga juga mendapatkan tantangan dan pengaruh perkembangan dunia luar, yang banyak menayangkan kekerasan dalam rumah tangga. Oleh sebab itu, Rasul menjelaskan persiapan yang harus ada sebelum menikah, yaitu yang berkaitan dengan persiapan fisik dan persiapan psikis.

1. Persiapan fisik
Persiapan fisik merupakan salah satu prasyarat untuk menikah, yang sangat menentukan adalah umur untuk melakukan pernikahan

a. Umur untuk melakukan perkawinan
Dalam Hadis tidak ada ketentuan pasti tentang umur untuk menikah. Tetapi ada isyarat pada kata al-syabab yang berarti kematangan (Ibn Manzhur, h. 462), atau kedewasaan. Secara biologis, fisik manusia tumbuh berangsur-angsur sesuai dengan pertambahan usia. Elizabeth mengungkapkan (Elizabeth B. Hurlock, 1993, h. 189) bahwa pada pria, organ-organ produksinya di usia 14 tahun baru sekitar 10 persen dari ukuran matang. Setelah dewasa, ukuran dan proporsi tubuh berkembang, juga organ-organ reproduksi. Bagi pria, kematangan organ reproduksi terjadi pada usia 20 atau 21 tahun. Pada perempuan, organ reproduksi tumbuh secara pesat pada usia 16 tahun. Pada masa tahun pertama menstruasi dikenal dengan tahap kemandulan remaja, yang tidak menghasilkan ovulasi atau pematangan dan pelepasan telur yang matang dari folikel dalam indung telur. Organisme reproduksi dianggap sudah cukup matang di atas usia 18 tahun, uterus bertambah panjang dan indung telur bertambah berat. Kematangan fisik seseorang menurut keterangan di atas ditentukan oleh usia. Semakin bertambah usia seseorang semakin matang organisme reproduksinya.
Kata الشباب memiliki pengertian kedewasaan usia dan kematangan emosional. karena, syabab adalah penamaan terhadap orang yang sudah balig sampai dengan umur 30 tahun, penamaan terhadap orang yang sudah berumur 16 tahun atau orang yang berumur maksimal 30 tahun, karena istilah untuk orang yang lebih dari 30 tahun adalah al-syuyukh (al-Nawawi, h. 173, dan al-Atsqalani, h. 135) Tidak adanya ukuran pasti dalam hadis menunjukkan pada sebagian orang tidak seimbang antara kedewasaan usia kalender dengan usia psikis. Begitu juga sebaliknya, ada yang usia kalendernya lebih muda tetapi memiliki kematangan emosional tinggi.
b. Persiapan finansial
Dalam kehidupan keluarga, faktor ekonomi merupakan salah satu faktor penting Pernyataan Nabi dalam hadis, bahwa kemampuan merupakan prasyarat menikah. Kata al-baat secara leksikal berarti jima’ (Al-’Atsqalani, h. 108), namun konteksnya kemampuan material (al-’Aini, h. 278 dan al-Mubarakfuri, h. 199), .karena jika kata baat adalah lemah kemampuan seksual, maka perintah untuk melakukan puasa tidak mempunyai makna bagi orang yang tidak mempunyai gairah seksual. Jadi, maknanya kekayaan atau kelebihan di bidang material atau mempunyai kemampuan untuk memperoleh sesuatu (Wahbat Zuhaili, 1991/1411, h. 13.dan Muhammad Rasyid Ridha, 1973, h. 17), dalam bentuk harta kekayaan atau keahlian yang dimilikinya. Dalam QS. al-Nur (24):33 : (orang-orang yang tidak mempunyai kesanggupan untuk menikah hendaklah ia menjaga dirinya sampai Allah memampukan mereka).
Dari hadis terlihat bahwa perintah menikah menjadi wajib jika yang bersangkutan telah memiliki atau dapat mempersiapkan financial untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ini sering diabaikan oleh sebagian umat Islam. Pemahaman semakin jelas dengan mengaitkannya dengan ketentuan dalam Q.S. al-Nur’: 34, yang menunjukkan ada keikut-sertaan atau pendampingan wali dalam masalah financial calon yang belum mandiri ekonominya. Banyak yamg memahami bahwa dalam Islam seseorang tidak perlu melakukan persiapan finansial. Anggapan yang seperti ini tentu sangat keliru, jika dikaitkan dengan ayat dan hadis di atas. Di sisi lain, hadis ttg wali agar tidak menjadikan kemampuan finansial sebagai standar/dasar menerima calon menantu. (Al-Mubarakfuri, h. 204), agar laki-laki yang menginginkan anaknya tidak menghalalkan semua cara agar dapat harta dan kedudukan.
2. Persiapan mental
Berkeluarga berarti bersatunya dua individu yang mempunyai pribadi, karakter, latar belakang keluarga dan latar belakang pendidikan, serta sikap yang berbeda. Oleh sebab itu, dituntut penyesuaian diri dengan lingkungan dan tanggung jawab baru dan siap menerima orang lain. Masalah penyesuaian diri dalam perkawinan, yang paling pokok dan umum berpengaruh kepada kebahagiaan keluarga adalah penyesuaian dengan pasangan, penyesuaian seksual, penyesuaian keuangan dan penyesuaian dengan orang lain dalam keluarga pihak masing-masing (Elizabeth B. Hurlock, h. 290). Untuk itu hanya orang yang sudah dewasa mental yang dapat melakukan penyesuaian diri dengan orang lain dalam keluarga barunya. Kesiapan mental dimaksud karena ada tanggung jawab dalam hadis yang harus diemban oleh masing-masing pihak (al-Bukhari, h. 2144, Muslim h. 1459, Abu Daud, h. 130, al-Turmuzi, h. 124, dan Ahmad bin Hanbal, h. 54)
Dalam hal ini yang cukup penting juga adalah pengetahuan tentang proporsional hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan dalam keluarga.

Reaksi: