Senin, 16 Maret 2009

KEBERHASILAN PENDIDIKAN RASULULLAH 1

PENDAHULUAN
Memperhatikan hasil survey tentang kualitas pendidikan di Indonesia, sungguh sangat memprihatinkan kita semua, terutama lembaga pendidikan. Data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), gabungan dari pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala menunjukkan, bahwa dari 174 negara di dunia, Indonesia berada pada urutan ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Hasil survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Bahkan hasil survey World Competitiveness Year Book tahun 2007, dipaparkan daya saing pendidikan Indonesia berada pada urutan 53 dari 55 negara yang diseurvei.
Di samping itu, banyak kasus di tengah-tengah masyarakat yang diklaim sebagai indikasi gagalnya pendidikan, misalnya tawuran antar siswa/mahasiswa, kasus jual beli gelar (ijazah), yang mencoreng lembaga pendidikan dan kasus lain yang memberikan kesan telah. berubahnya orientasi pendidikan. Demo guru, kurangnya minat belajar, dan telah terjadi materilasi pendidikan. dalam berbagai komponen seperti materi pelajaran, pendidik, peserta didik, manajemen, lingkungan, bahkan tujuan pendidikan itu sendiri.
Begitu juga dengan orientasi belajar para siswa/mahasiswa jika hanya bertujuan untuk meraih nilai tinggi, mendorong siswa/mahasiswa untuk berlaku tidak jujur. Nilai tinggi seharusnya bukan menjadi tujuan, karena dengan memiliki pengetahuan pasti akan memperolehnya. Standarisasi IP bagi alumni juga dimaknai keliru, cara apapun dilakukan agar mendapatkan nilai tinggi, sehingga dapat memilih melanjutkan studi/ mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
Peneliti dan pakar pendidikan telah merumuskan penyebab dan solusinya dilihat dari berbagai sudut pandang, seperti kurangnya kesejahteraan guru, rendahnya kualitas guru, rendahnya kualitas sarana, mahalnya biaya pendidikan, dan berkurangnya daya saing. Namun dalam kesempatan yang berbahagia ini, tanpa menegasikan faktor yang diungkapkan oleh para ahli, dalam tulisan ini akan diungkapkan aspek lain yang punya kontribusi besar terhadap gagal atau berhasilnya pendidikan.
Dalam beberapa hadis Rasulullah tentang pendidikan sangat menarik untuk dicermati bahwa dalam kondisi sebelum Islam yang begitu parah, awal Islam yang penuh dengan serangan musuh, dan sarana prasarana seadanya, namun semangat belajar mengajar para sahabat yang sangat luar biasa. Dari analisis terhadap hadis, sebab wurud dan sosio historis yang ada pada saat itu, diketahui bahwa ada distingsi yang sangat jelas pada sasaran khitab. Agaknya, saat ini sasaran khithab sering ditukartempatkan. Sehingga mempengaruhi kinerja pendidik, peserta didik dan yang bertanggungjawab dalam pendidikan (pemerintah). Hal ini dibuktikan dalam penjelasan berikut:
Peserta didik
Bagi peserta didik, belajar mencari ilmu bukan hanya kebutuhan tetapi kewajiban. Rasul dalam satu riwayat secara eksplisit menyatakan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi semua muslim. Pendidikan bukan untuk mendapatkan gelar, tetapi untuk mendapatkan pengetahuan, gelar akan melekat baginya. Dalam menuntut ilmu/belajar, ada beberapa tips yang diberikan oleh Rasulullah agar peserta didik mendapatkan ilmu dan berhasil dalam pendidikannya.
a. Belajar agar berilmu
Dalam pembelajaran, peserta didik diberikan pemahaman dan ditumbuhkan kesadaran bahwa belajar merupakan sarana untuk memperoleh ilmu, dengan ungkapan Rasul: ilmu itu hanya didapati dengan cara belajar. Oleh sebab itu, dalam beberapa kesempatan, dan dengan berbagai cara Rasul Saw. memberikan motivasi kepada orang yang belajar agar punya indeks kinerja yang tinggi.
Allah menjanjikan untuk meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu (Q.S.al- Mujadilah/ 58: 11) Allah menegaskan bahwa orang yang berilmu mempunyai tingkat ketaqwaan yang lebih tinggi (Q.S.Fathir/ 35:28). Rasulullah pun dalam beberapa hadisnya memberikan motivasi kepada peserta didik agar memiliki ilmu yang bermanfaat :

1) Menuntut ilmu untuk kepentingan pengembangan Ajaran Islam
Ada beberapa cara yang digunakan Rasul dalam menumbuhkan semangat menuntut ilmu dengan motivasi. Ada dua metode yang dipakai Rasul untuk ini, pertama dengan metode targhib (hadiah dari Allah), kedua, dengan metode tarhib (ancaman)
Rasul memberikan jaminan bahwa orang yang menuntut ilmu berdekatan dengannya di surga
عَنِ الْحَسَنِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَاءَهُ الْمَوْتُ وَهُوَ يَطْلُبُ الْعِلْمَ لِيُحْيِيَ بِهِ الْإِسْلَامَ فَبَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّبِيِّينَ دَرَجَةٌ وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ
Diterima dari Hasan, Rasulullah bersabda: Siapa yang meninggal dan ia sedang mencari ilmu untuk mengembangkan ajaran Islam, maka antara dia dan Rasulullah satu tingkatan saja di surga.

Dari hadis di atas, terlihat bahwa jaminan yang diberikan Rasul telah mendorong para sahabat dalam proses pembelajaran dengan menggunakan semua potensi yang dimilikinya secara sungguh-sungguh untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat untuk pengembangan Islam. Ada 2 aspek yang menjadi stressing dalam sabda Rasul di atas; pertama: belajar untuk mendapatkan ilmu, bukan untuk mencari nilai/IP tinggi atau gelar dan prestise. Tidak salah jika seseorang menginginkan IP/nilai tinggi, dan mendapatkan gelar, jika bukan diposisikan sebagai tujuan. Kedua: ilmu yang diperoleh diaplikasikan untuk hal yang bermanfaat, bukan mencari ilmu yang kemudian digunakan untuk merusak.

Di samping itu, Rasul memberikan ancaman kepada orang yang salah motivasi atau salah tujuan dalam mencari ilmu, tidak akan mencium bau surga. Dalam hadis berikut Rasul menjelaskan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ سُرَيْجٌ فِي حَدِيثِهِ يَعْنِي رِيحَهَا
Abu Hurairah menyatakan, Rasul telah bersabda: Siapa saja yang menuntut ilmu bukan karena Allah akan tetapi untuk mendapatkan keuntungan dunia (gelar, prestise, pen), maka nanti ia tidak akan mendapatkan bau surga.
Bahkan dalam riwayat lain secara tegas dinyatakan bahwa yang menuntut ilmu bukan karena Allah atau bermaksud untuk selain Allah, ia akan masuk neraka.
Dalam kedua hadis di atas, tidak jelas indikasi bukan karena atau untuk Allah, namun dijelaskan Rasul dalam hadis berikut:
عَنْ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ
Alasan dan tujuan menuntut ilmu yang keliru yang diancam dengan neraka, dan harus dijauhi adalah:
• Belajar dengan tujuan dapat mendebat/menjatuhkan ulama.
• Belajar dengan tujuan agar dapat mengakali orang bodoh
• Belajar dengan tujuan agar menjadi pusat perhatian orang/dipuja atau disanjung.

Sangat tegas ancaman yang diberikan Rasulullah yaitu masuk neraka. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga bentuk di atas bukannya memberikan manfaat bagi orang lain, atau pengembangan Islam, malah akan menimbulkan kerusakan dimana-mana. Dengan ilmunya ia akan menimbulkan keresahan di masyarakat.

2) Belajar sungguh-sungguh
Banyak sekali hadis Rasul yang memberikan semangat agar peserta didik sungguh-sungguh dalam belajar, dan menggunakan segala potensi yang dimilikinya untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Rasulullah Saw. Dalam beberapa hadisnya menjelaskan:
a. Pendidik dan Peserta didik Disamakan dengan Mujahid di jalan Allah
Allah dan Rasul-Nya menempatkan pendidikan pada posisi jihad “perang”. (Q.S. al-Taubat/9: 122) Dalam ayat ini, Allah telah memperingatkan umat Islam agar tidak semua orang mengikuti perang ke medan juang, tetapi harus ada sebagian orang yang mendalami ilmu, sehingga nanti dapat diajarkan kepada mereka yang ikut perang setelah mereka kembali.
Padahal jika dilihat realitas pada saat itu, Rasul Saw. sangat membutuhkan tenaga untuk dapat membantu perjuangan umat Islam. Menurut al-Razi (w. 604 H.) , kemungkinan tentang ayat ini berdasarkan riwayat dari Ibn ‘Abbas, bahwa kewajiban tinggalnya sebagian umat Islam untuk mendalami ilmu, karena mungkin saja pada waktu Rasul Saw. menerima wahyu dan menyampaikannya kepada sahabat. Untuk itu, harus ada sahabat yang dapat menerima dari Rasul Saw. dan kemudian menyampaikannya kepada orang yang berangkat jihad.
Ungkapan eksplisit dari Rasulullah Saw.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلا لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ
Artinya: Abu Hurairah berkata: “Saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘orang yang datang ke mesjidku ini tidak lain kecuali karena kebaikan yang dipelajarinya atau diajarkannya, maka ia sama dengan orang yang berjihad di jalan Allah. Siapa yang datang bukan karena itu, maka sama dengan orang yang sedang wisata melihat kesenangan lainnya.”
Dalam riwayat di atas, Rasul Saw. mengemukakan bahwa orang yang datang ke mesjid Nabi Saw. untuk mempelajari atau menuntut ilmu diposisikan pada posisi orang yang berjihad di jalan Allah. Ada sebuah riwayat lain yang menyatakan bahwa orang yang menuntut ilmu berada di jalan Allah hingga ia kembali. Dapat dikatakan bahwa Rasul Saw. memberikan motivasi kepada setiap muslim untuk selalu mencari ilmu dengan berbagai cara.
Penyamaan antara belajar dan mengajar dengan jihad agaknya dilihat dari 3 aspek: pertama cara, kedua, tujuan keduanya, dan ketiga: dampak yang ditimbulkan, Apabila jihad ‘perang’ dilakukan dengan menggunakan kekuatan tenaga, berkorban harta dan mungkin juga siap untuk kehilangan nyawa, sebagai wujud dari kesungguhan, maka dalam pembelajaran pun diperlukan kesungguhan yang sama. Apalagi jika diperhatikan dalam hadis tersebut kata yang digunakan untuk belajar kata thalab (mencari) dan ibtigha’(mencari) yang menunjukkan keaktifan, dengan tenaga dan mungkin dana dan ketekunan. Apabila main-main, seadanya dan pasif, hanya melewati hari-hari di sekolah/kampus atau di rumah formalitas saja, tentu apa ilmu yang diharapkan tidak akan di dapat.
Dari aspek tujuan, jika jihad perang untuk membalas perlakuan non-muslim yang berupaya menghalangi umat Islam melaksanakan ajaran Islam dengan leluasa tanpa tekanan; dan ancaman fisik, maka menuntut ilmu bertujuan untuk mengupayakan agar muslim dapat menjalankan ajaran Islam sesuai dengan aturan dan tuntunan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Keduanya sama-sama mempunyai tujuan agar ajaran Islam dapat dilaksanakan oleh setiap muslim sesuai aturan.
Dilihat dari dampak yang ditimbulkan, apabila tidak melakukan jihad perang maka musuh Islam akan leluasa mengganggu, menteror dan menyakiti umat Islam Sedangkan tanpa ilmu, manusia tidak dapat hidup dengan benar, bahkan dapat sesat dan mungkin akan menyesatkan orang lain.
Dari Hadis yang ditelusuri ditemukan bahwa Rasul Saw. sangat menekankan agar selalu ada orang berilmu agar terhindar dari kesengsaraan di dunia dan akhirat . Di anataranya dalam sabda berikut:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْم بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ فَإِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Artinya: Dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ،, Rasulullah Saw. bersabda: Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya dari manusia, tetapi Ia mengambil ilmu dengan cara mengambil ulama. Jika orang berilmu tidak satu pun yang tinggal, orang-orang akan mengangkat orang yang tidak berilmu sebagai pemimpin. Maka jika ia ditanya, ia akan berfatwa tanpa didasari oleh ilmu. Akibatnya mereka akan sesat dan menyesatkan orang lain dengan fatwanya itu.
Riwayat di atas secara tegas menjelaskan bahwa tanpa ilmu manusia akan keluar dari koridor yang sudah ditentukan. Bahkan jika orang yang tidak berilmu itu dijadikan sebagai nara sumber dalam permasalahan yang dihadapi oleh umat, maka ia akan memberikan penjelasan dan atau jawaban atau solusi dari permasalahan yang ada sesuai dengan ketidak-mengertiannya. Ia akan sesat dan menyesatkan orang lain. Kalau ia seorang hakim maka ia akan memutuskan perkara yang dihadapkan kepadanya dengan dasar ketidak-mengertiannya, yang diancam oleh Rasul Saw. dengan ancaman neraka.
Begitu juga dengan seorang yang mempunyai posisi pengambil kebijakan, tanpa dasar pengetahuan yang dimilikinya, maka Rasul Saw. menegaskan bahwa menyerahkan sesuatu kepada orang yang tidak memiliki kemampuan untuk itu maka kehancuranlah yang akan diterima. Dengan demikian, ilmu merupakan sesuatu yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku dirinya muslim.
Dari riwayat di atas pun diketahui bahwa kebodohan merupakan sumber bencana untuk diri yang bersangkutan dan atau untuk orang lain, bahkan bencana bagi kemurnian ajaran Islam. Tanpa pengetahuan, orang akan dengan mudah melakukan sesuatu yang dianggapnya benar, atau yang dikatakan orang lain benar, meskipun kenyataannya tidak benar atau tidak sesuai dengan ketentuan yang ada.
Dari berbagai metode yang digunakan oleh Rasulullah Saw. sepertinya beliau menginginkan umat Islam beramal dan berkarya berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Agaknya, inilah yang menyebabkan penyamaan kegiatan belajar mengajar dengan jihad. Karena dampak yang ditimbulkan oleh kebodohan dan ketidaktahuan terutama masalah agama tidak kurang dari kegiatan musuh Islam yang berupaya menghancurkan Islam.
Bukan hanya menyamakan, ketika harus memilih antara jihad perang dengan menuntut ilmu, dari hadis-hadis Rasul yang ada, al-Nawawi menyatakan bahwa kegiatan menyebarkan ilmu diutamakan dari pada jihad (perang), apabila jihad (perang) tersebut masih dalam taraf fardhu kifayah. Sangat luar biasa, terutama bagi bangsa Indonesia yang menurut penilian para pakar bahwa pendidikannya kurang berkualitas, maka jihad kita adalah dengan cara pelaksanaan pendidikan bermutu.
b. Tidak terpengaruh dengan rintangan, gangguan, baik pisik, psikis atau pun financial.
Sama dengan jihad perang, agar muslim tetap punya semangat dan tidak merasa khawatir dengan konsekwensi yang mungkin muncul ketika mencari ilmu, misalnya merasa sulit, merasa berat costnya, atau merasa banyak kendalanya dan tantangannya, Rasulpun memberikan motivasi dengan jaminan yang akan diberikan Allah kepadanya.
Rasulullah selalu menumbuhkan keyakinan bahwa Allah akan memberikan pertolongan, karena dalam sebuah hadis Rasul menyatakan bahwa orang yang menuntut ilmu akan dimudahkan jalannya ke surga, dalam hadis berikut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Dalam riwayat lain, Rasul Saw. menjelaskan bahwa orang yang menuntut ilmu, Allah akan memberikan salah satu jalan untuknya dari beberapa jalan ke surga. Pada hadis lain, Rasul menambahkan bagi penuntut ilmu akan mendapatkan bantuan dari Malaikat Bahkan Rasul memberikan apresiaisi yang luar biasa bagi orang yang mau menuntut ilmu, walaupun setelah berusaha ia tidak mendapatkan ilmu, yaitu berupa balasan dari Allah dalam hadis berikut:
سَمِعْتُ وَاثِلَةَ بْنَ الْأَسْقَعِ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ فَأَدْرَكَهُ كَانَ لَهُ كِفْلَانِ مِنَ الْأَجْرِ فَإِنْ لَمْ يُدْرِكْهُ كَانَ لَهُ كِفْلٌ مِنَ الْأَجْرِ
Dalam hadis di atas, Rasul memberikan penghargaan ketika proses, bukan saja pada hasil. Agaknya, jaminan yang diberikan Allah dan Rasul itulah yang telah memberikan semangat yang luar biasa kepada para sahabat di zaman Rasul, sehingga dapat merubah karakter jahiliyah menjadi Islami. Bagaimana mungkin dengan jaminan itu umat Islam khususnya menjadi malas, ogah-ogahan. Pada hari ini pun, jika dilandasi semangat yang luar biasa, ternyata Rasulullah terhadap pendidikan menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh.

3) Redefinisi Kebodohan
Penilaian ketertinggalan pendidikan di Indonesia bukan hanya dilihat berapa banyak alumni PT, atau terbebasnya masyarakat Indonesia dari buta aksara, Akan tetapi, seberapa besar pendidikan memberikan kontribusi dalam kehidupan manusia.
Saat ini, agenda besar bangsa Indonesia adalah memberantas kebodohan, Untuk meningkatka kualitas pendidikan di Indonesia, perlu dilakukan defenisi ulang terhadap kebodohan. Dalam bahasa Arab kata جهل mempunyai bermacam-macam pengertian. Al-Ishfahani menyatakan bahwa kebodohan terbagi kepada tiga macam, yaitu: 1. Jiwa yang kosong dari ilmu; 2. Meyakini sesuatu yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya; 3. Melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan, atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan, baik karena keyakinan yang benar atau karena keyakinan yang salah.
Ketiga bentuk kebodohan yang dikemukakan oleh al-Isfahani tersebut membawa pengaruh negatif terhadap pelaksanaan ajaran Islam yang benar. Jiwa tidak punya ilmu akan sulit menjalani kehidupan yang penuh dengan berbagai macam tantangan. Keyakinan yang salah pun akan membawa kepada tindakan yang tidak benar. Melakukan atau tidak melakukan sesuatu dengan alasan yang tidak jelas dan atau tidak benar, akan berpengaruh terhadap kemurnian ajaran Islam. Kebodohan dengan demikian dapat menghambat pelaksanaan ajaran Islam yang sesuai dengan tuntunan Rasul Saw.
Pada masa awal, musuh Islam yang dihadapi oleh Rasul Saw. dan umat Islam adalah orang musyrik dan munafik yang menghalangi dan mengganggu pelaksanaan ajaran Islam. Dalam menghadapi ancamannya, Rasul Saw. telah memerintahkan agar umat Islam melawan mereka dengan segenap kemampuan dan upaya. Namun dibandingkan dengan ancaman kaum musyrik dan munafik tersebut, maka ancaman kebodohan mungkin jauh lebih besar dampak negatifnya. Karena di samping kekosongan jiwa dari pengetahuan, menghalangi dan mengganggu pelaksanaan ajaran Islam dengan benar, juga dapat menyelewengkan ajaran Islam dari yang sebenarnya.
Melawan kebodohan diri sendiri dilakukan dengan cara berupaya secara sungguh-sungguh untuk mengetahui ketentuan agama dan mengamalkan serta mengajarkannya. Jihad dalam bentuk ini merupakan upaya memerangi kebodohan yang dapat berakibat negatif terhadap keorisinilan ajaran dan kesalahan dalam pelaksaaannya.
Demikianlah agar menjadi perhatian semua, dan kembali ke koridor yang telah ditetapkan Islam, dengan harapan tidak salah langkah.

catatan kaki:
Guru Besar Tetap dalam bidang ilmu. Mata kuliah ilmu Hadis Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri Jurai Siwo Metro
Ainurrofiq Dawam, Pendidikan Islam Indonesia Kini, dalam Swara Ditpertais: No. 17 Th. II, 18 Oktober 2004
Ibnu Majah, op.cit., juz 1, h. 81. Meskipun ada sanad bermasalah yang menyebabkan Hadis ini dinilai dha’if, tetapi kandungan Hadis dimaksud sejalan dengan al-Qur'an dan Hadis yang lebih Sahih. Mungkin ini yang menyebabkan al-Suyuthi, mengutip pendapat Syekh Muhy al-Din ketika ditanya tentang kualitas Hadis ini, beliau menyatakan bahwa sanadnya dha’if, tetapi dari aspek maknanya Hadis ini sahih. Jamal al-Din menyatakan bahwa Hadis ini diriwayatkan dalam beberapa jalur sanad yang dapat mengangkat kualitasnya menjadi Hasan.
Al- Bukhari.juz 1, h. 42.
Ibn Majah juz 1, h. 92-93, Abu Daud, juz 3, h. 320, Al-Darimi, juz 1, h. 80-81, Ahmad, juz 8, no. 8438
Al-Turmuzi, juz 4, h. 141 no. 2793
Al-Turmuzi , juz 4, h. 140-141, Ibnu Majah, juz 1, h. 93, dan al-Darimi juz 1, h. 104-105 dan Ahmad bin Hanbal juz 1, h. 190
Muhammad al-Razi Fakhr al-Din ibn ‘Allamah Dhiya’ al-Din ‘Umar selanjutnya disebut al-Razi (544-604), Tafsir al-Fakhr al-Razi (al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib), (Beirut: Dar al-Fikr, t.t.), juz 16, h. 230.
Ibn Majah, op.cit., juz 1, h. 83. Dalam Zawaid dinyatakan bahwa sanadnya Sahih atas syarat Muslim. Lihat, Al-’Asqalani.op.cit.,juz 6, h.2-4; juz 2, h. 128-129; Juz 3, h. 41-42; juz 8, h. 452- 454. Dari penilaian terhadap sanad, tidak ada sanad yang disepakati oleh kritikus periwayat Hadis yang mempunyai kualitas kurang. Dapat dikatakan bahwa kualitas Hadis ini minimal hasan.
Al-Turmuzi dalam bab al-’ilm, juz 4, h. 137. Al-Turmuzi menyatakan bahwa Hadis ini kualitasnya Hasan Gharib.
Al-Bukhari, op.cit.,juz 1,h. 56 , Muslim, op.cit.,juz 4, h. 2058, al-Turmuzi, ibid., h. 139; al-Darimi, op.cit., juz 1, h. 77; dan Ahmad bin Hanbal , ibid., h. 162 dan 190.
Hadis di atas ditakhrij oleh Abu Daud dalam kitab aqdhiyyah, op.cit., juz 3, h. 299; dan Ibnu Majah dalam kitab ahkam, op.cit., juz 2, h. 776.
Al- Bukhari, op.cit., juz 1, h. 36.
Ab­ Zakariyya Yahya bin Syarf Al-Nawawi, Fatwa al-imam al-Nawawi al-Masail al-Mansyurah (Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1982/1402), h. 117.
Muslim, op.cit., juz 4, h. 2074, Abu Daud, op.cit Al-Turmuzi, juz 3, h. 458, Abu Daud juz 3, h. 313, Ibn Majah, juz 1, h. 81, Al-Darimi juz 1, h. 98 dan h. 101, dan Ahmad no. 8299.,; .
Abu Daud dalam kitab ilmu,. ibid, juz 3, h. 317. Semua periwayat tidak ada yang memiliki cacat. Lihat al-’Asqalani, juz 10, h. 107-109; juz 5, h. 199-120 dan h. 41; juz 3, h. 181-182.
Al-Turmuzi, juz 4, h. 153 no. 2823, ibn Majah juz 1, h. 81 (2 jalur) dan rijalnya siqat
Darimi, juz 1, h. 97
Al- Isfahani, op.cit., h. 209.
Al-Kandahlawi, Aujaz, op.cit., h. 197.
al-Darimi, juz 1, h. 86-87
Al-Turmuzi, ibid., h. 138, Ibnu Majah, op.cit., juz 1, h. 96, dan Ahmad bin Hanbal, op.cit., juz 2, h. 263, 305, 344, 353, dan 495. Periwayat pada jalur al-Turmu©i ada yang dita’dil dan ada yang dijarh, Lihat, al-’Asqal±n³, op.cit., juz 1, h. 17-18 ; juz 6, h. 57; juz 7, h. 416-417, h. 311, dan h. 199-203. Karena ada beberapa jalur lain yang periwayatnya tidak bermasalah, maka minimal kualitas Hadis ini ¥asan.
Muslim, op.cit., juz 3, h. 1506; al-Turmuzi, op.cit., juz 4, h. 148; dan Ahmad bin Hanbal , op.cit., juz 4, h. 120, dan juz 5, h. 274 dan 357.
Muslim, ibid., juz 2, h. 705; Ibnu Majah, op.cit., juz 1, h. 74; al-Darimi, op.cit., juz 1, h. 131.
Al-Bukhari, juz 1, op.cit., h. 44; Muslim, op.cit. ; juz 1, h. 559; Ibnu Majah. op.cit. .juz 2, h. 1407.
Al-Bukhari, juz 1, h. 35 hadis no. 100, Muslim, juz 4 , h. 2058, al-Turmuzi , juz 3, h. 461, Ibn Majah juz 1, kitab muqaddimah, no. 52, al-Darimi, juz 1, Ahmad bin Hanbal no. 6222dan 6498
Ibn Majah, juz 1, h. 81
Al-Turmuzi, juz 4, h. 137, Ibn Majah juz 1, h. 80-81 (2 jalur sanad yang berbeda)
Al-Turmuzi, juz 4, h. 138 no. 2787. Abu Daud, juz 3, h. 318 nomor 3658, Ibn Majah, juz 1, h. 96 no. 261, dan Ahmad bin Hanbal 5
Ahmad, dan Al-Turmuzi( ’Abd al-Shomad – ’Abdullah bin al-Mutsanna – Tsamamah – Anas bin Malik) dan (Ishaq bin Manshur – ’Abd al-Shamad bin ’Abd al-Waris - ’Abdullah bin al-Mutsanna – Tsamamah – Anas bin Malik)

Al-Turmuzi, op.cit., juz 4, h. 137. Menurut al-Turmuzi kualitas Hadis ini ¦asan Gharib.
Ibid., Menurut al-Turmuzi, kualitas Hadis ini ¦asan , Abu Daud, op.cit., juz 3, h. 317 dan al-Darimi, op.cit., juz 3, h. 99.
http://www.setneg.go.id Sekretariat Negara Republik Indonesia, 12 January, 2009, 07:06

Reaksi: