Rabu, 13 Mei 2009

PENDAYAGUNAAN ZAKAT

PENDAYAGUNAAN ZAKAT
(INTERPRETASI DELAPAN ASNAF MUSTAHIQ)

PENDAHULUAN
Seiring dengan perintah Allah kepada umat Islam untuk membayarkan zakat, Islam mengatur dengan tegas dan jelas tentang pengelolaan harta zakat. Management zakat yang ditawarkan oleh Islam dapat memberikan kepastian keberhasilan dana zakat sebagai dana umat Islam. Hal itu terlihat dalam Al-Qur'an bahwa Allah memerintahkan Rasul Saw. untuk memungut zakat (Q.S. al- Taubat/9: 103). Di samping itu, Q.S. Al- Taubah/9:60 dengan tegas dan jelas mengemukakan tentang yang berhak mendapatkan dana hasil zakat yang dikenal dengan kelompok delapan asnaf.
Dari kedua ayat tersebut di atas, jelas bahwa pengelolaan zakat, mulai dari memungut, menyimpan dan tugas mendistribusikan harta zakat berada di bawah wewenang Rasul dan dalam konteks sekarang, zakat dikelola oleh pemerintah. Dalam operasional zakat, Rasul Saw. telah mendelegasikan tugas tersebut dengan menunjuk ‘amil zakat. Penunjukan amil memberikan pemahaman bahwa zakat bukan diurus oleh orang perorangan, tetapi dikelola secara profesional dan terorganisir. ‘Amil yang mempunyai tanggung jawab terhadap tugasnya, memungut, menyimpan, dan mendistribusikan harta zakat kepada orang yang berhak menerimanya.
Pada masa Rasul Saw. beliau mengangkat beberapa sahabat sebagai ‘amil zakat. Aturan dalam al-Taubah: 103 dan tindakan Rasul Saw. tersebut mengandung makna bahwa harta zakat dikelola oleh pemerintah. Apalagi dalam Q.S. Al- Taubah/9:60, terdapat kata ‘‘amil sebagai salah satu penerima zakat. Berdasarkan ketentuan dan bukti sejarah, dalam konteks kekinian, ‘amil tersebut dapat berbentuk yayasan atau badan amil zakat yang mendapatkan legalisasi dari pemerintah.
Akhir-akhir ini di Indonesia di samping ada lembaga amil zakat yang telah dibentuk pemerintah BAZIS mulai dari tingkat pusat sampai tingkat kelurahan/desa, juga ada lembaga atau yayasan lain seperti Dompet Dhu’afa di Jakarta, Yayasan Dana Sosial al-Falah di Surabaya, yayasan Darut Tauhid di Bandung dan Yayasan amil zakat di Lampung. Bahkan sebagian yayasan tersebut sudah dapat menggalang dana umat secara profesional dengan nominal yang sangat besar. Di samping itu, pendayagunaan zakat sudah diarahkan pada pemberian modal kerja, penanggulangan korban bencana dan pembangunan fasilitas umum umat Islam
Dalam Al-Qur'an, ada delapan asnaf penerima zakat yang menggunakan istilah yang dapat dipahami secara kontekstual dan umum sesuai dengan tujuan zakat itu sendiri. Oleh sebab itu, ketentuan Islam tentang penerima zakat tersebut perlu dipahami sesuai dengan konteks dan tujuan pewajiban zakat itu sendiri. Zakat tidak hanya dapat diterimakan kepada mustahiq sebagai charity dan dalam program pendidikan, bantuan modal kerja dan sejenisnya.
Apalagi dengan situasi dan kondisi sekarang banyak sekali lembaga atau yayasan yang konsern terhadap masalah-masalah ketidakberdayaan dan ketidakmampuan umat Islam. Ada beberapa program yang diperuntukkan juga bagi umat Islam yang tidak mampu seperti advokasi kebijakan publik, HAM, bantuan hukum, pemberdayaan perempuan Semua program tersebut meperlukan dana yang tidak sedikit, sementara itu pendanaannya tidak mungkin dibebankan kepada mereka.
Berdasarkan kenyataan tersebut, muncul pertanyaan apakah dana dari zakat dapat digunakan untuk pelaksanaan program yayasan atau badan yang mengurus kepentingan umat Islam yang tak mampu secara financial, akses, atau pun pengetahuan. Mereka dengan segala keterbatasannya juga harus dibantu. Program tersebut pun memerlukan dana operasional, bahkan mereka yang membantu pun perlu dana. Pada satu sisi, penerima zakat telah ditetapkan secara tegas dan jelas, yang sebagian orang memahami tidak mungkin keluar dari aturan tersebut.
Apabila asnaf yang ditetapkan dalam QS. Al-Taubah: 60 tersebut dipahami secara tekstual ada asnaf yang tidak dapat diaplikasikan sekarang, yaitu riqab. Riqab adalah budak muslim yang telah dijanjikan untuk merdeka kalau ia telah membeli dirinya. Begitu juga dengan fuqara’, masakin, dan gharimin. Pemahaman tekstual akan menyebabkan tujuan zakat tidak tercapai, karena pemberian dana zakat kepada yang bersangkutan sifatnya hanya charity. Masalah krisis ekonomi yang dihadapi sebagian umat Islam memerlukan bukan hanya bagaimana kebutuhan dasarnya terpenuhi. Akan tetapi bagaimana mengatasi krisis tersebut dengan mengatasi penyebab munculnya krisis.
Dengan demikian, untuk pencapaian tujuan zakat dan hikmah pewajiban zakat, maka pemahaman kontekstual dan komprehensif terhadap delapan asnaf penerima zakat perlu dilakukan, sehingga kelompok yang berhak mendapatkan dana zakat dapat menerima haknya.

B. PENERIMA ZAKAT
Zakat merupakan ibadah yang memiliki dua sisi. Pada satu sisi zakat merupakan ibadah yang berfungsi sebagai penyucian terhadap harta dan diri pemiliknya , pada sisi lain zakat mengandung makna sosial yang tinggi. Dengan semakin luasnya objek zakat dengan jenis usaha yang sangat variatif di bidang pertanian, perindustrian, peternakan dan profesi semakin besar peluang untuk penggalangan dana dari sektor zakat. Akan tetapi kesuksesan dalam penggalangan dana saja tidak akan mencapai sasaran, jika pendistribusian dana zakat tidak dikelola secara profesional.
Kenyataan di lapangan, pendistribusian zakat merupakan salah satu faktor yang dijadikan tolok ukur bagi umat Islam untuk memilih lembaga yang dipercaya dalam pengelolaan zakat Kekhawatiran umat Islam bahwa dana yang ada sampai atau tidak kepada yang berhak sering menjadi penyebab kurang berdayanya lembaga amil yang ada. Mungkin ini yang diisyaratkan oleh QS. Al-Taubah: 60 stressingnya pada pendistribusian harta zakat bukan pada upaya penggalangannya.
1. Latar belakang turunnya ayat tentang penerima zakat
Kelompok yang berhak mendapatkan pendanaan zakat pada tataran aplikasi dibatasi pada yang sudah disebutkan dalam Al-Qur'an. Jika diperhati
kan urutan ayat QS al-Taubah:60 tersebut terletak antara ayat-ayat yang bercerita tentang orang munafik. Pada ayat 59 sebelumnya, Allah menceritakan tantang orang yang merasa senang kalau diberi zakat dan mencaci maki Rasul jika ia tidak mendapatkan zakat. Bahkan sebab turun ayat tentang delapan asnaf tersebut untuk mengeluarkan orang munafik dari mustahiq zakat. Hal itu terbukti dengan jawaban Rasul terhadap komplain seorang munafik yang tidak mendapatkan zakat dengan ungkapan: jika kamu termasuk delapan asnaf tersebut maka kamu mendapatkan bagian zakat.
Dengan demikian, mungkin adat hesar (انما ) dalam ayat malah bukan memberikan batasan tentang penerima zakat yang sesungguhnya, tapi lebih kepada tujuan untuk memberikan pembatasan terhadap orang munafik yang berambisi dan harap mendapatkan harta zakat, sehingga tidak ada tempat bagi mereka sebagai kelompok yang perlu dibantu dengan dana umat Islam. Konsekwensi logis dari tindakan mereka yang tidak mau bersama-sama menggalang kekuatan umat Islam, mereka pun tidak mendapatkan fasilitas tunjangan financial.
2. Kriteria penerima zakat
Dilihat dari urutan penerima zakat yang disebutkan dalam ayat 60 surat al-Taubah, penerima zakat dilihat dari penyebabnya dapat dikelompokkan pada 2 (dua) kelompok besar, yaitu:
1) karena ketidakmampuan dan ketidakberdayaan
2) karena kemaslahatan umum umat Islam
Ad.1. Ketidakmampuan dan ketidakberdayaan
Kelompok atau orang yang masuk dalam kategori ini dapat dibedakan pada dua hal, yaitu: 1. Ketidakmampuan dibidang ekonomi. Ke dalam kelompok ini masuk fakir, miskin, gharim, dan ibn sabil. Harta zakat diberikan kepada mereka selain riqab untuk mengatasi kesulitan ekonomi yang menimpa mereka. 2. Ketidakberdayaan, dalam wujud ketidakbebasan dan keterbelengguannya untuk mendapatkan hak azasi sebagai manusia Maka riqab diberikan untuk membeli kemerdekaannya. Ini berarti zakat diberikan untuk mengatasi ketidakbebasan dan keterbelengguannya mendapatkan haknya sebagai manusia. Karena dalam sejarahnya, budak diberlakukan tidak manusiawi, dapat digauli tanpa nikah dan dapat diperjualbelikan
Ad. 2. Kemaslahatan umum umat Islam
Mustahiq bagian kedua ini mendapatkan dana zakat bukan karena ketidakmampuan financial, tapi karena jasa dan tujuannya untuk kepentingan umum umat Islam. Yang masuk dalam kelompok ini adalah ‘amil, muallaf dan sabilillah. ‘Amil mendapatkan pendanaan dari harta zakat karena telah melakukan tugasnya sebagai pengelola dana umat Islam. Muallaf mendapatkan pendanaan dari harta zakat karena memberi dukungan kepada umat Islam dan mengantisipasi umat Islam dari tindakan anarkhis kelompok yang tidak menyenangi Islam dan umatnya. Untuk Sabilillah, dana zakat diperuntukkan untuk pelaksanaan semua kegiatan yang bermuara pada kemaslahatan umat Islam pada umumnya.
Pada kelompok kedua ini, alasan pemberian dana zakat tidak dilihat dari keadaan financial person, tetapi pada jasa atau kegiatannya. Artinya meskipun dilihat dari perorangan yang terlibat di dalamnya tergolong orang yang mampu atau berkecukupan, maka ‘amil dan muallaf tersebut mendapatkan dana zakat sebagai kompensasi dari jasanya. Sedangkan untuk sabililllah, dana zakat dapat diberikan kepada kelompok, person atau pun kegiatan-kegiatan untuk kemaslahatan umum umat Islam.
C. PENDAYAGUNAAN HARTA ZAKAT
Berdasarkan uraian sebelumnya, agar harta zakat dapat berdayaguna secara maksimal maka pemaknaan kontekstual terhadap asnaf delapan yang dapat didanai dengan zakat adalah sebagai berikut:
1, 2. Membantu Kelompok Fakir dan miskin.
Orang miskin di samping tidak mampu di bidang financial, mereka juga tidak memiliki pengetahuan dan akses. Untuk mencapai tujuan zakat sebagai upaya mambantu masyarakat miskin keluar dari himpitan krisis yang menghimpit mereka, maka di samping dana zakat yang diberikan bersifat konsumtif, dan produktif, juga dapat dipergunakan untuk program yang mengarah pada upaya mendapatkan hak kaum miskin, seperti pendampingan kaum miskin (advokasi), HAM dan sejenisnya. Bantuan financial saja mungkin tidak akan meningkatkan taraf hidup mereka.
Oleh sebab itu, semua upaya atau kegiatan untuk membantu orang miskin dapat masuk dalam kelompok fuqara’ dan masakin. Seperti untuk membantu pengobatan orang miskin, dan mendapatkan pendidikan. Karena bantuan tersebut juga dapat dinikmati secara langsung oleh mereka.
3. Gharimin
Pemahaman terhadap gharimin dalam berbagai literatur tafsir atau fiqh dibatasi pada orang yang punya hutang untuk kperluannya sendiri dan dana dari zakat diberikan untuk membebaskannya dari hutang. Namun kelompok Syafi’iyyah menyatakan bahwa gharim meliputi: 1. hutang karena mendamaikan dua orang yang bersengketa. Dana zakat dapat diberikan untuk pengganti pengeluaran tersebut, meskipun orangnya secara pribadi mampu. 2. Hutang untuk kepentingan pribadi 3. Hutang karena
menjamin orang lain. Untuk dua yang terakhir, dana zakat diberikan kepada yang berhutang kalau dia tidak mampu membayarnya.
Hutang yang disebabkan oleh upaya mendamaikan dua orang yang bersengketa, meskipun yang berhutang secara pribadi kaya, ia berhak mendapatkan bantuan dana zakat untuk mengganti dana yang dikeluarkannya. Begitu juga hutang yang diakibatkan karena program atau kegiatan untuk kepentngan sosial, seperti dana yayasan anak yatim, atau rumah sakit untuk pengobatan masyarakat miskin atau sekolah untuk kaum muslimin.
Dalam konteks ini, dapat dipahami bahwa hutang yang timbul akibat dari operasional upaya penyelesaian sengketa dalam bentuk apapun dapat didanai oleh dana zakat. Seperti advokasi, penegakan HAM, perlindungan anak dan bantuan hukum, terutama bagi umat Islam yang tidak mampu untuk mendapatkan haknya.
Biaya operasional program dimaksud tentu saja dapat didanai dengan dana zakat. Hal itu disebabkan kegiatan tersebut termasuk pada upaya untuk menyelesaikan sengketa dan biasanya dialami oleh masyarakat tidak mampu baik akses, ataupun ekonomi.
4. Mu’allaf
Mu’allaf pada umumnya dipahami dengan orang yang baru masuk Islam. Namun, dfilihat dari sejarahnya, pada masa awal Islam muallaf yang diberikan dana zakat dibagi kepada 2 (dua) kelompok. 1. Orang Kafir, yang diharapkan dapat masuk Islam seperti Safwan bin Umayyah dan yang dikhawatirkan menjahati orang Islam seperti Ibn Sufyan bin Harb. 2. Orang Islam, terdiri dari Pemuka muslim yang disegani oleh orang kafir; muslim yang masih lemah imannya agar dapat konsisten pada keimanannya; muslim yang berada di daerah musuh.
Menurut al-Syafi’iyyah, muallaf adalah: 1. Muslim yang lemah imannya, agar iamannya menjadi kuat; 2. Pemuka masyarakat yang masuk Islam, diharapkan dapat mengajak kelompoknya masuk Islam; 3. Muslim yang kuat imannya, yang dapat mengamankan dari kejahatan orang kafir; 4. Orang yang dapat menghambat tindakan jahat orang yang tidak mau berzakat.
Pemberian zakat kepada muallaf kelihatannya dengan tujuan agar umat Islam merasa nyaman dan terjauh dari tindakan anrkhis kelompok agama lain. Meskipun ada perbedaan muallaf yang diberi tetapi tujuannya untuk menjaga umat Islam tetap dalam keyakinannya dan menjauhkannya dari tindakan kelompok lain yang dapat merusak.
Al-Thabari menyatakan bahwa hakikat pemberian zakat kepada muallaf adalah untuk mengantisipasi hancurnya umat Islam dan mengokohkan serta menguatkan Islam. Karena itu Rasul masih memberikan zakat pada muallaf pada saat fath Mekah dan umat Islam sudah banyak.
Yusuf Qardhawi mengemukakan bahwa zakat yang diberikan kepada muallaf dengan tujuan agar hatinya tetap dalam Islam, mengokohkan orang yang lemah imannya atau usaha untuk menolongnya; dan menahan tindakan jahat kelompok lain.
Dengan demikian, untuk saat sekarang dapat dipahami bahwa semua kegiatan yang dilakukan untuk membuat umat Islam yang lemah iman tetap dalam keyakinannya dan tidak tergoda untuk berpindah ke agama selain Islam dapat dikategorikan pada pemberian dana untuk kelompok muallaf ini.
5. ‘Amil
Muhammad Rasyid Rida mengemukakan maksud dari ‘amil pada ayat adalah mereka yang ditugaskan oleh Imam/ pemerintah atau yang mewakilinya, untuk melaksanakan pengumpulan zakat, menyimpan atau memeliharanya, termasuk para pengelola, dan petugas administrasi ... Sementara Y­suf al-Qar«aw³ memberikan batasan yang lebih rinci tentang ‘amil yaitu semua orang yang terlibat/ ikut aktif dalam organisasi zakat, termasuk penanggung jawab, para pengumpul, pembagi, bendaharawan, sekretaris dan sebagainya.
Dari kedua pengertian ‘amil tersebut dapat diketahui bahwa ‘amil bertugas mulai dari penentuan wajib zakat, penghitungan dan pemungutan zakat. Mereka juga bertugas mendistribusikan harta zakat tersebut kepada orang yang berhak menerimanya. Namun, Ibn Rusyd memahami bahwa amil bukan hanya terbatas pada amil zakat, tetapi termasuk juga para hakim dan orang yang termasuk dalam pengertian mereka yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan umum umat Islam.
Lebih jauh dinyatakan bahwa amil meliputi amil zakat dan yang semakna seperti hakim, wali, mufti dan lain-lain yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan umat. Meskipun secara pribadi mereka mampu namun mendapatkan dana zakat sebagai kompensasi dari usaha dan kegiatan yang mereka lakukan. Menurut Yusuf Qardhawi, fuqaha pada umumnya menyatakan bahwa mereka hakim, wali, mufti dan yang semakna tidak masuk kelompok amil. Oleh sebab itu kompensasi untuk mereka diambil dari dana selain zakat, kecuali mereka yang termasuk fi sabilillah.
Meskipun terdapat perbedaan, yang pasti bahwa orang yang menyibukkan dan mengabdikan dirinya untuk kepentingan umum umat Islam, mendapatkan dana dari zakat. Bisa dari kelompok amil atau dari kelompok sabilillah. Dalam konteks kekinian, orang yang mengurusi kepentingan umum umat Islam, apalagi untuk memperjuangkan nasib dan ketidakberdayaan umat Islam yang tidak mampu dapat menggunakan dana zakat sebagai kompensasi dari usaha mereka. Besarnya dana zakat yang dipakai disesuaikan dengan berat ringannya kerja mereka.
6. Riqab
Dalam sejarahnya, jauh sebelum Islam datang riqab terjadi karena sebab tawanan perang. Oleh sebab itu, ada beberapa cara yang digunakan untuk membantu memerdekakan budak, seperti sebagai sanksi dari beberapa pelanggaran terhadap aturan Islam. Harta zakat pun diperuntukkan bagi budak yang masuk Islam untuk mendapatkan hak kemerdekaannya sebagai manusia.
7. Sabilillah
Sabilillah pada masa awal dipahami dengan jihad fi sabilillah, namun dalam perkembangannya sabilillah tidak hanya terbatas pada jihad, akan tetapi mencakup semua program dan kegiatan yang memberikan kemaslahatan pada umat Islam. Dalam beberapa literatur secara eksplisit ditegaskan bahwa sabilillah tidak tepat hanya dipahami jihad, karena katanya umum, jadi termasuk semua kegiatan yang bermuara pada kebaikan seperti mendirikan benteng, memakmurkan mesjid, termasuk mengurus mayat. Bahkan termasuk di dalamnya para ilmuan yang melakukan tugas untuk kepentingan umat Islam, meskipun secara pribadi ia kaya
Dapat dipahami bahwa dana zakat untuk sabilillah, dapat diberikan kepada pribadi yang mencurahkan perhatiannya untuk kepentingan umum umat Islam. Di samping itu juga diberikan untuk pelaksanaan program atau kegiatan untuk meujudkan kemaslahatan umum umat Islam, seperti benteng, mendirikan rumah sakit dan pemberian layanan kesehatan.
8 Ibn Sabil
Ibn sabil sebagai penerima zakat sering dipahami dengan orang yang kehabisan biaya di perjalanan ke suatu tempat bukan untuk maksiat. Untuk ini tujuan pemberian zakat untuk mengatasi keterlantaran, meskipun di kampung halamannya ia termasuk mampu. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Islam memberikan perhatian kepada orang yang terlantar.
Penerima zakat pada kelompok ini disebabkan oleh ketidakmampuan yang temporer atau sementara. Jika orang terlantar sementara saja dibantu dengan dana zakat, apalagi mereka yang benar-benar tidak mampu tentu saja mendapatkan prioritas lebih.
Perhatian yang diberikan Islam kepada orang yang kurang mampu di samping adanya kewajiban zakat, juga dengan memberikan ancaman kepada orang yang tidak mengabaikan orang miskin (Q.S. Al-M±’­n/107: 3). Perhatian juga diberikan kepada orang yang tidak mempunyai pelindung. Dalam hadis ditemukan bahwa Rasulullah Saw. menyatakan orang yang membantu mereka sama dengan jihad di jalan Allah. Pada satu sisi, penyamaan ini mungkin pada reward yang akan diterima nanti di akhirat dan mungkin juga fasilitas yang akan diterima di dunia.
Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa dana zakat dapat didistribusikan kepada orang atau lembaga yang tujuannya memberikan bantuan untuk meringankan himpitan ekonomi, membantu mereka untuk mendapatkan haknya, dan untuk kegiatan yang bertujuan untuk kemaslahatan umum umat Islam. Luasnya cakupan dari istilah yang digunakan dalam asnaf delapan tidak pada tempatnya jika harus membatasi pada artian khusus.
CATATAN KAKI
Diantara sahabat yang diangkat oleh Rasul Saw. sebagai ‘amil zakat adalah Ziy±d bin Lab³d (w. 41 H.) sekali gus menjabat sebagai amir wilayah Hadramaut; ‘Ad³ bin ¦±tim (w. 67 H.) sekali gus sebagai amir wilayah °ayyi dan Ban³ Asad; M±lik bin Huwairah (w. 12 H.) ‘±mil yang memungut zakat Ban³ Hanzalah; Al-’Ala’ bin al-Ha«ram³ (w. 14 H.) untuk memungut zakat penduduk Bahrain; dan ‘Al³ bin Ab³ °±lib (w.40 H. ), lihat, Ab­ ‘Abdill±h Mu¥ammad bin Is¥±q dan Ab­ Mu¥ammad ‘Abd al-M±lik bin Hisy±m al-Ayy­b al- ¦umair³, Sirah al-Nabi ¢allall±h ‘alaih wa Sallam, (Mesir: al-Ma¯ba’ah al- Madan³, 1962 M/ 1393 H.), juz 4, h. 1019.
Q.S. al-Taubah : 103
Q.S. al- Zariyat: 19
Abd Al-Rahman Jalal al-Din al-Suyuthi, AL-Dur al-Mantsur fi Tafsir al-Ma’tsur, Beirut: Dar al-Fikr, 1414/1993, Jilid 4, juz 10, h. 220.
‘Abdur Rahman al-Jaziri, Kitabul Fiqh ‘ala al- Mzahibil Arba’ah, juz 1, Beirut: Dar al-Fikri, 1986/1406, h. 625-626.
Yusuf Qardhawi, Fiqh Zakat, Beirut: Muassasah al-Risalah, juz 2, 1412/1991, h. 630.
Muhammad Rasyid Rida, Tafsir Al-Qur'an al-Hakim (al-Manar) juz 10, Darul Fikr, t.t., h. 495, bandingkan dengan Abu Bakar Ahmad al-Razi al-Jashshash, Ahkamul Qur’an, juz 3, Beirut: Darul Fikr, 1414/1993, h.181 dan Sayid Quthub, Fi Zhilalil Qur’an, jilid 3, juz 10, Beirut: Darul Syuruq, 1412/1992, h. 1669 .
‘Abdur Rahman al-Jaziri, op.cit., h. 625.
Al-Thabari, juz 14, h. 316
Yusuf Qardhawi, fiqh Zakat, juz 2, h. 609
Muhammad Rasyid Ri«a, op.cit., jilid 10, h. 513.
Yusuf al-Qardawi, Fiqh al-Zakah, (Beirut: Muassasat al-Ris±lat Dar al-Qalam, 1981), cet. Ke 6, juz 2, h. 576.
Ibn Rusyd, Bidayatul Mujtahid, juz 1, h. 276.
Kitab Nail wa Syarhuhu, juz 2, h. 134.
Yusuf Qardhawi, op.cit. h. 593
Kaffarat bagi suami isteri yang melakukan persetubuhan pada bulan Ramadan, hukuman pengganti qisas
Al-Razi, op.cit., h. 189 bandingkan dengan Muhammad Rasyid Ridha, op.cit., h. 501.
Seperti yang dkutip oleh Muhammad Rasyid Ridha, ibid., h. 502
Al-Bukhari, shahih al-Bukhari., juz 3, h. 2212, juz 4, h. 2435, Muslim, shahih Muslim., juz 4, h. 52-53, al-Turmuzi, sunan al-Turmuzi., juz 3, h. 224, al- Nasa’i, sunan al-Nasa’i., juz 5, h. 86-87, Ibn Majah, sunan Ibn Majah., juz 2, h. 724, dan Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal., juz 2, h. 361.

Reaksi:

0 komentar: