Indahnya Ketentuan Islam ttg Orang Tua dan Anak

Pada awalnya, semua anak perempuan harus mengikuti semua kemauan orang tuanya. Ironisnya, dalam kitab Fiqh masih dikenal istilah mujbir untuk bapak dan kakek

Penerimaan Hadis Ahad oleh Imam Mazhab Fiqh

Dari segi wurudnya, hadis ahad tersebut dikategorikan zhanni al-wurud. Zhanni wurud pada hadis ahad ini disebabkan oleh karena hadis ahad diriwayatkan oleh periwayat yang jumlahnya tidak mendatangkan keyakinan tentang kebenarannya.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Baitullah Impian Setiap Muslim post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Baitullah Impian Setiap Muslim

Tempat Khusus yang Penuh Berkah

Kamis, 22 September 2016

KONSEP HADIS DAN SUNNAH

IKONSEP HADIS DAN SUNNAH
Oleh:
Prof. Dr. Enizar, M.Ag
Guru Besar Hadis/ Ilmu Hadis


Bagi umat Islam, Hadis dan Sunnah merupakan suatu istilah yang sangat familiar, bahkan kadang keduanya dipahami sebagai dua istilah yang memiliki makna yang sama, karena keduanya bersumber dari subjek yang sama yaitu Rasulullah SAW.[1] Pada hal jika dilihat dari perkembangannya, kedua istilah Hadis dan Sunnah tersebut sebenarnya berbeda.

A.  Konsep Hadis 
Hadis merupakan suatu istilah yang tidak asing bagi umat Islam, terutama bangsa Arab. Bagi orang Arab jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad, kata “hadis” mempunyai arti penting. Peristiwa bersejarah pada masa itu oleh bangsa Arab disebut dengan al-aĥādiś.[2] Kata ini digunakan untuk judul dan tema sya’ir.[3] Dari pengertian bahasa ada perbedaan Hadis dan Sunnah.[4]  Hadis [5] bentuk jadian dari kata adaa.  Secara etimologis kata ini berarti jadīd (baru) lawan dari qadīm (lama), dan khabar (kabar atau berita yang diterima sedikit maupun banyak).[6] Hadis juga diartikan sebagai komunikasi, cerita, perbincangan (religius atau sekuler, historis atau kekinian).[7]
Di samping itu, secara terminologi terdapat beberapa perbedaan pemahaman para ulama. Hadis menurut ulama Hadis adalah perkataan, perbuatan, taqrir dan hal ihwal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW.[8] Hadis dengan demikian sama dengan sunnah.
Ulama usul fiqh mengartikan Hadis  dengan cara lebih sempit.  Namun istilah Hadis kurang populer di kalangan ahli usul. Hal itu terlihat dari term yang banyak dibahas adalah term sunnah dan khabar.[9] Hadis dengan demikian sama dengan khabar. Jika digunakan kata Hadis, maka dalam persepsi ulama usul fiqh bahwa yang dimaksud adalah sunnah qauliyah Rasulullah SAW.[10]
Sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa Hadis adalah perkataan, perbuatan, ataupun taqrir Nabi SAW., sahabat dan tabi’in.[11] Ini berarti bahwa di samping riwayat marfū’, juga riwayat mawqūf  dan maqţū’ dinyatakan sebagai Hadis.
Dalam pemahaman lain, sebagian ulama  menganggap Hadis identik dengan khabar.[12] Dengan bahasa yang berbeda, sebagian ulama Hadis menyatakan bahwa khabar merupakan sinonim dari kata Hadis. [13] Ini berarti bahwa Hadis juga mencakup semua yang datang dari Rasulullah, sahabat dan tabi’in. Akan tetapi sebagian lainnya menyatakan bahwa Hadis tidak identik dengan khabar, karena  Hadis hanyalah riwayat marfū’ atau yang hanya bersumber dari Rasulullah SAW. Sedangkan khabar mencakup riwayat marfū’, mawqūf  dan maqţū’,  atau berita yang bersumber dari Rasulullah SAW., sahabat dan tabi’in. Dari dasar inilah muncul ungkapan bahwa setiap Hadis adalah khabar dan tidak semua khabar adalah Hadis. [14]
Berdasarkan penjelasan di atas terlihat bahwa perbedaan dalam memberikan defenisi Hadis di atas ketika memberi batasan terhadap aspek dari Rasulullah yang dapat dikatakan Hadis, sabda atau perbuatan atau pun taqrir dan sifatnya.  Di lain sisi juga dilihat dari penyandaran terakhir Rasulullah, sahabat atau pun tabi’in.
B.  Konsep Sunnah
Sunnah secara etimologis memiliki beberapa arti: jalan yang ditempuh, kesinambungan, jalan yang baik, jalan yang terus diulang-ulang baik ataupun buruk.[15]  Ada yang mengartikan sunnah dengan adat kebiasaan (al-‘adat)  yaitu sesuatu yang dilakukan secara berulang oleh namyak orang baik ibadah atau pun bukan.[16]
Sunnah secara terminologis ada beberapa pengertian  yang diberikan oleh ulama. Ulama Hadis memberikan defenisi yang sama antara Hadis dengan sunnah. Sunnah dengan demikian adalah semua yang disandarkan kepada Rasulullah SAW. dalam bentuk sabda, perbuatan, taqrir (persetujuan), penampilan pisik dan budi pekerti, sirah ataupun maġāzī.[17]  Bahkan sunnah dimaknai lebih luas dengan memasukkan sunnah sahabat dan sunnah tabi’in dalam pengertian sunnah.[18]
Ada juga ulama yang memberikan pengertian sunnah dengan semua yang dinukilkan dari Nabi Muhammad SAW. baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, perangai, budi pekerti, perjalanan hidup sebelum menjadi Rasul atau sesudahnya.[19]
Ulama muhaddişin memberikan pengertian yang lebih luas terhadap sunnah, karena sunnah mencakup semua aspek yang terkait dengan Rasulullah SAW., baik yang dapat dijadikan dasar hukum atau pun tidak; baik yang bersumber dari Nabi ataupun sahabat dan tabi’in; baik yang terjadi sebelum ataupun sesudah kenabian. Hal itu disebabkan karena muhaddişin bahwa Rasulullah secara keseluruhan adalah uswaţ asanaț.
Perbedaan antara Hadis dan sunnah bukan hanya pada tataran yang tersebut di atas, tetapi juga pada luas atau sempitnya cakupan kedua istilah Hadis dan Sunnah tersebut.[20]
Ulama uṡul fiqh memberikan pengertian sunnah lebih sempit dari pengertian yang diberikan muhaddişin, karena yang dianggap sunnah hanya terbatas pada sabda, perbuatan, persetujuan maupun penolakan Rasulullah SAW. yang dapat dijadikan dasar hukum.[21] 
Berbeda halnya dengan ulama fiqh, term sunnah dimaknai dengan sesuatu yang ditetapkan Nabi SAW. yang tidak termasuk pada kategori wajib atau farḍu.[22] Dalam konteks ini, sunnah adalah sesuatu yang ketika dilakukan, maka pelakunya akan mendapatkan pahala dan tidak berdosa ketika ditinggalkan.
Sementara di sisi lain, term ini juga diperhadapkan sebagai lawan dari bad’ah.  Dalam konteks ini term sunnah merupakan sesuatu yang dilakukan oleh Rasulullah SAW., dan sahabatnya dalam aktivitas keagamaan yang terdapat di dalam al-Qur’an atau pun tidak.[23] Dalam konteks ini, sunnah adalah sesuai dengan yang pernah dilakukan atau ditetapkan oleh Rasulullah SAW.
Dalam perkembangannya, kata Sunnah mengalami evolusi. Pada masa Nabi, sahabat mendasarkan segala sesuatu kepada al-Qur’an seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah, dengan demikian Sunnah mengandung kesesuaian antara tindakan sahabat dengan yang dilakukan oleh Nabi. [24]
Setelah Rasulullah  wafat, pemahaman terhadap Sunnah berubah menjadi lebih luas, karena Sunnah pada masa ini adalah Sunnah Nabi di tambah penafsiran sahabat terhadap Sunnah Nabi.[25] Hal itu disebabkan karena Sahabat pada masa ini berfungsi bukan hanya sebagai  penyampai Hadis Rasulullah  yang dulu pernah didengar, dilihat dan dikatahui dari Rasulullah. Akan tetapi, Sahabat juga berfungsi sebagai penafsir terhadap Hadis Rasulullah, ketika memberikan penjelasan dan dalam memberikan pemahaman yang kontekstual dari Hadis Rasulullah  kepada tabi’in.  Sahabat pun sebagai pengurai terhadap Sunnah Nabi, yang masih bersifat global dan sangat umum.  Uraian tersebut tentunya sesuai dengan pengalaman mereka bersama Rasulullah SAW.  
Pada perkembangan berikutnya, Sunnah pun meliputi  ijtihad sahabat dalam memecahkan persoalan dan diterima oleh masyarakat sebagai sesuatu yang otoritatif. Pada masa ini, Sunnah bukan hanya Sunnah Rasulullah, tetapi juga termasuk ijtihad personal sahabat yang kemudian menjadi ijma’ masyarakat. Contoh, salat tarawih, pada mulanya salat tarawih sendiri-sendiri, Umar menyarankan agar dilakukan berjama’ah,  Besoknya Umar mendapati orang banyak telah melaksanaka salat tarawih berjama’ah dan Umar berucap: Ni’m al-bid’ah hazih.[26] ini menjadi Sunnah sampai sekarang.
Distingsi antara Hadis dan sunnah ini telah terjadi sejak abad ke 2 H. Hal itu disebabkan oleh perbedaan persepsi bahwa Hadis merupakan ilmu teoritis sementara sunnah adalah praktis. Di samping itu juga disebabkan oleh pendapat sebagian ulama yang memandang sunnah lebih luas dari Hadis atau sebaliknya. 
Mazhab hukum awal memandang praktek aktual masyarakat yang sudah mapan sebagai Sunnah. Terdapat perbedaan Sunnah pada masalah yang sama dan pada alasan yang digunakan, sehingga Sunnah mencakup  praktek yang berkembang dan Sunnah Nabi. Fazlur Rahman (w. 1989 M) menyebut sunnah dengan hukum tingkah laku, baik yang dilakukan sekali atau berulang; baik yang dilakukan oleh Rasulullah para sahabat, tabi’in, maupun ulama lainnya.[27] Ketika membandingkan Hadis dan sunnah, Rahman menyatakan bahwa Hadis adalah verbal tradition dan sunnah sebagai practical tradition. Perkembangan Sunnah pada masa ini membawa pada pemaknaan Sunnah bukan hanya pada Sunnah Rasulullah  saja, tetapi mencakup semua praktek umat Islam baik bersumber dari Rasulullah  ataupun dari penjelasan sahabat.
Begitu juga dengan kata Hadis, yang pada awalnya merupakan berita  yang bersumber dari Rasulullah, kemudian pada perkembangan berikutnya Hadis pun meliputi berita  sahabat tentang perbuatan dan hal ihwal Rasulullah. Hadis mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama pada masa perkembangan berikutnya, dimana terjadi verbalisasi Hadis yang dilakukan secara massif. Hadis Rasulullah yang pada awalnya berbentuk perbuatan Rasulullah, dan diikuti oleh sahabat, kemudian pada masa ini disampaikan secara lisan oleh sahabat. 
Kenyataan verbalisasi Sunnah ini tentu saja berimplikasi pada perbedaan redaksi dari satu periwayat (baca sahabat, tabi’in) dengan periwayat lain. Ada yang menceritakan fi’liyah Rasulullah  dengan lengkap dan detail dan ada pula yang secara umum saja. Misalnya, Hadis fi’liyah tentang tata cara salat, sangat banyak versi Hadis yang menceritakan tata cara salat Rasulullah  yang sebelumnya diterima oleh sahabat dengan cara demonstrasi, kemudian dinarasikan oleh sahabat kepada tabi’in.  Kemungkinan adanya beberapa praktek yang tidak dapat diakomodir oleh periwayat dalam verbalisasi Sunnah.
Penyeragaman term Hadis dan sunnah telah berlangsung sejak masa Muhammad Idris al-Syafi’I (w.204 H).  Menurut al-Syafi’i, setiap Hadis yang otentik adalah sunnah, baik ada atau tidak ada praktek kenabiannya dalam komunitas muslim tentang Hadis tersebut.[28]  Dengan demikian terlihat perbedaan atau pun penyamaan antara Hadis dan sunnah lebih pada tataran teoritis, dan tidak mempunyai implikasi terhadap validitas dan orisinalitas Hadis.
C.  Urgensi Hadis
Hadis merupakan sumber hukum utama sesudah  al-Qurân.  Keberadaan Hadis merupakan realitas nyata dari ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qur’an. Hal ini karena tugas Rasulullah  adalah sebagai pembawa risalah dan sekaligus menjelaskan apa yang terkandung dalam risalah al-Qur’an. Sedangkan Hadis, merupakan penjelasan dan praktek dari ajaran al-Qur’an itu sendiri. 
Bagi umat Islam, posisi Sunnah Nabi terhadap       al-Qur’an sangat urgen. Hadis berfungsi dalam menjelaskan ayat yang masih mujmal (global), membatasi kandungan ayat yang mutlaq, dan mengkhususkan kandungan ayat yang masih umum. Bahkan Hadis memperluas pembahasan hal-hal yang masih ringkas dalam al-Qur’an.
Para ulama juga menafsirkan firman Allah :
“…dan supaya mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah” (Al-Baqarah ayat 129)
Al-Hikmah dalam ayat tersebut adalah As-Sunnah seperti diterangkan oleh Imam As-Syafi`i, “Setiap kata al-hikmah dalam Al-Qur`an yang dimaksud adalah As-Sunnah.” Demikian pula yang ditafsirkan oleh para ulama yang lain.[29]
Banyak ayat menjelaskan tentang hal ini., Allah SWT. memerintahkan Rasul-Nya agar menjelaskan bahwa mematuhi Allah berarti mutlak harus mengikuti Rasulullah  (QS.4:59). Bahkan, seorang muslim tidaklah diangap sah keberimanannya jika tidak menjadikan Rasulullah SAW. sebagai pemutus atas berbagai masalah yang dihadapi, dan menerima keputusan itu tanpa rasa berat dan terpaksa (QS.4:65).
Allah menjelaskan, orang yang mematuhi Rasulullah SAW. berarti ia telah mentaati Allah SWT. (QS.4:80). Ayat ini memberikan pemahaman bahwa ketaatan kepada Rasulullah  dengan mengikuti Sunnahnya merupapakan bukti ketaatan kepada Allah. Bahkan Allah SWT. menegaskan bahwa apapun yang diperintahkan oleh Rasul-Nya, hendaknya dipegang erat-erat dan apa pun yang dilarang olehya harus ditinggalkan (QS.59:7). Ayat ini menjelaskan bahwa semua perintah dan larangan yang datang dari Rasulullah  wajib dipatuhi oleh setiap mukmin.[30] Bahkan dalam Q.S. Ali ‘Imran/3: 32 ada petunjuk bahwa ketaatan kepada Rasulullah adalah dengan cara mengikuti Sunnah Rasulullah .[31]
Peran Rasulullah  yang demikian itu oleh Allah dijelaskan lagi bahwa Rasulullah merupakan panutan bagi orang-orang yang meyakini adanya hari akhirat (QS.33:21). Bahkan terdapat peringatan akan terjadinya azab atau pun fitnah terhadap orang-orang yang menyalahi ajaran Rasul Nya (QS.24:63). Bagaimana mungkin mengetahui Sunnah Rasulullah tanpa memperhatikan Hadis yang ditinggalkan Rasulullah .
Bagi kelompok yang hanya mengakui keberadaan Hadis mutawatir, berdampak terhadap keberadaan Hadis ahad, karena akan sangat banyak Hadis Rasulullah  yang luput. Hal itu disebabkan oleh realitas jumlah Hadis, yang menunjukkan jumlah Hadis ahad jauh lebih banyak dari Hadis mutawatir.
Berdasarkan penjelasan al-Qur’an, posisi Sunnah  dengan demikian sangat urgen, namun dalam perjalanan sejarahnya, ada komunitas tertentu yang diidentifikasi oleh al-Syafi’i,[32] dalam kitabnya,[33] pertama; yang hanya mencukupkan diri dengan al-Qur’an, dengan tidak mengakui semua Sunnah.      Kedua, kelompok yang menolak Hadis kecuali Hadis yang memiliki kesamaan dengan aturan al-Qur’an, Ketiga, kelompok yang menolak Hadis ahad.  Mereka dikenal dengan kelompok Inkar Sunnah, yang ditengarai masih hidup sampai saat ini.
Kaitan dengan periwayatan Hadis, kelompok yang menolak semua Hadis atau kelompok yang hanya menerima Hadis mutawatir sebagai hujjah dan menolak kehujjahan Hadis ahad, meskipun ada di antara Hadis ahad itu yang memenuhi syarat Hadis yang dapat diterima dan dijadikan hujjah. Alasan utama yang mereka kemukakan adalah karena Hadis  ahad itu bernilai ẓanni (proses penukilannya tidak meyakinkan). Dengan demikian, kebenaran Hadis dari Rasulullah SAW.  tidak dapat diyakini sebagaimana halnya dengan Hadis mutawatir. Sementara menurut mereka, urusan agama haruslah didasarkan pada dalil qaţ’i yang disepakati kebenarannya.
Sementara kelompok lain, beralasan bahwa Hadis Rasulullah SAW. yang sampai kepada muslim melalui proses periwayatan yang tidak dijamin besih dari kekeliruan, kesalahan, dan bahkan kedustaan terhadap Rasulullah SAW. Oleh karena itu, kebenarannya tidak meyakinkan (zanni). Karena status ke-zanni-an ini, maka Hadis tersebut tidak dapat dijadikan sebagai penjelas bagi al-Qur’an yang diyakini kebenarannya (qaţ’i).
Kelompok inkar Sunnah tersebut dengan alasan mereka, telah banyak mendapatkan bantahan dari beberapa muhaddis dan para pemerhati Hadis seperti yang diungkapkan oleh imam al-Syafi’i, MM. Azami dan Syuhudi Isma’il, dengan membuktikan Rasulullah merupakan penjelas dan penafsir terhadap kandungan al-Qur’an. Bahkan ketika ayat-ayat al-Qur’an yang masih global, tanpa bantuan Hadis tidak akan dapat dilaksanakan.  Misalnya ketika menjalankan aturan tentang pemotongan tangan bagi pelaku pencurian yang ada dalam al-Qur’an al-Ma’idah/5: 38 yang artinya:
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
 Ketentuan dalam ayat di atas, berapapun besaran harta yang dicuri, harus dijatuhi hukuman potong tangan. Begitu juga dengan batasan tangan yang akan dipotong dalam ayat tersebut adalah seluruh tangan. Dalam Hadis Rasulullah  ada batasan minimal objek curian yang dapat dijatuhi hukuman potong tangan,[34] dan batasan tangan yang dipotong karena melakukan pencurian. [35] Dapat dipahami bahwa Hadis merupakan seseuatu yang sangat penting untuk dapat memberikan pemahaman yang benar terhadap ayat al-Qur’an dan untuk menegakkan ketentuan al-Qur’an.
D.  Bentuk Penjagaan Allah terhadap Sunnah
Allah telah menjamin keontetikan sunnah dan akan memeliharanya sebagaimana menjaga dan memelihara al-Qur`an. Seperti yang dijelaskan Allah dalam firmanNya:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Ẓikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. al Hijr/15: 9)
Tidak ada perselisihan sedikit pun di kalangan para ahli bahasa atau ahli syari’at bahwa setiap wahyu yang diturunkan oleh Allah merupakan Al-ikr. Dengan demikian, sudah pasti bahwa yang namanya wahyu seluruhnya berada dalam penjagaan Allah; dan termasuk di dalamnya al-Sunnah.
Semua yang telah dijamin oleh Allah untuk dijaga, tidak akan punah dan tidak akan terjadi penyelewengan sedikitpun. Bila ada sedikit saja penyelewengan, niscaya akan dijelaskan bukti penyelewengan tersebut sebagai konsekuensi dari penjagaan Allah. Ayat di atas merupakan naṣ yang secara tegas memberikan penjelasan tentang penjagaan Allah terhadap al-Qur`an. 
Adanya perintah Allah untuk menyampaikan Islam kepada seluruh manusia, menjadikan  Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad tetap abadi dan terjaga. Suatu hal yang sangat mustahil, ketika Allah membebani hamba-hamba-Nya untuk mengikuti syari’at yang tidak terjaga. Dua sumber utama syari’at Islam adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Apabila Al-Qur’an telah dijamin oleh Allah kemurniannya, tentu As-Sunnah pun demikian juga. [36]
Meskipun secara lafal kata al-Zikr, bukan berarti hanya penjagaan terhadap al-Qur’an, tetapi juga terkandung penjagaan terhadap Hadis Nabi, karena Allah ta’ala berfirman:
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad SAW.) al-Ẓikr, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan.  (Q.S. An Nahl: 44)
Dalam ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menjelaskan al-Qur`an kepada manusia, maka jika penjelasan Rasulullah  terhadap al-Qur`an tidak terjaga dan terpelihara (mahfûẓ), tentu umat muslim tidak dapat berpegang teguh dan beramal dengan  al-Qur`an yang dijelaskan oleh Sunnah Nabi. Apalagi dengan memperhatikan  firman Allah, yang artinya:
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), (Q.S. Al-Najm: 3-4) .
Dengan demikian, jelaslah bahwa janji Allah untuk memelihara al-Ẓikr tidak hanya terbatas pada al-Qur`an saja, tetapi yang dimaksud adalah menjaga syari’at dan agama Allah  yang disampaikan Rasulullah. [37]
Ibnu Hazm,[38] menyatakan: tidak ada perbedaan antara para ulama ahli lughah (bahasa Arab) dan syari’at bahwa semua wahyu yang turun dari Allah itu adalah al-Ẓikru al-Munazzal. Semua wahyu terpelihara dengan pemeliharaan Allah dengan pasti dan semua yang Allah jamin pemeliharaannya, maka akan terjaga dan tidak akan hilang serta tidak akan berubah sedikitpun.
Selanjutnya, Ibn Hazm membantah orang yang menganggap pengertian al-Ẓikr dalam ayat di atas bermakna al-Qur`an saja dengan menyatakan: “ini adalah klaim dusta yang tidak berdasarkan bukti dan pengkhususan kata al-Ẓikr tanpa dalil…“ kata al-Ẓikr adalah nama umum untuk semua yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya berupa al-Qur`an atau Sunnah yang merupakan wahyu penjelas al-Qur`an. Allah berfirman, yang artinya:
Dan Kami turunkan kepadamu al-Ẓikr, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan, (Q.S. Al-Nahl: 44)
Berdasarkan ayat di atas, Rasulullah  diperintahkan untuk menjelaskan al-Qur`an kepada manusia. Dalam al-Qur`an ada banyak perintah mujmal seperti salat, zakat, haji dan selain itu yang tidak dapat diketahui apa yang diwajibkan Allah Ta’ala dengan lafaẓ al-Qur`an tersebut, dan hanya akan dapat diketahui dengan penjelasan Nabi. Ketika penjelasan Rasulullah  terhadap ayat yang global (mujmal) tersebut tidak terpelihara dan tidak terjamin keselamatannya dari yang bukan Sunnah, maka akan menghilangkan sebagian besar syari’at yang diwajibkan kepada muslim dan muslim tidak tahu kebenaran yang Allah kehendaki.[39] 
Demikian juga, pemeliharaan al-Qur`an tidak sempurna kecuali dengan menjaga dan memilihara Sunnah Rasulullah. Hal itu disebabkan makna kandungan al-Qur`an terrefleksikan pada akhlak dan amalan Rasulullah SAW.  Sehingga mengingkari, tidak menggunakan dan membiarkan satu Sunnah yang ṣahih atau menyimpangkan dan mentakwilkannya keluar dari maksudnya serta memahaminya di luar ketentuan syari’at adalah sama saja dengan meninggalkan dan tidak mau peduli dengan al-Qur`an. [40]
Seluruh perbuatan, perkataan dan taqrir Nabi tentang agama semuanya wahyu dan al-Ẓikr. Semuanya terjaga dan terpelihara dengan penjagaan dan pemeliharaan Allah. Adapun al-Qur`an, maka semuanya terpelihara dan dinukilkan secara mutawatir. Sedangkan Sunnah Rasulullah yang merupakan penjelas al-Qur`an, pengkhusus lafaż-lafaż umumnya dan pembatas lafaż mutlaknya pun terjaga dan terpelihara.
Di antara periwayatan dan penjagaan Sunnah adalah Allah menciptakan sekelompok dari umat Islam yang senantiasa menegakkan kebenaran sampai hari kiamat. Hal itu terlihat dari pernyataan yang disampaikan Ṡauban bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
لا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَهِ وَهُمْ كَذَلِك [41]
Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menang di atas kebenaran, tidak merugikan mereka orang-orang yang menghina mereka hingga datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan demikian.
Dengan adanya umat yang menegakkan kebenaran dan memenangkannya tentu akan dapat memelihara keotentikan Sunnah Rasulullah SAW. Hal ini terbukti dengan adanya perhatian para salaf umat dan ulama muhaddiṡin di setiap zaman dan tempat terhadap Hadis. Perhatian tersebut terlihat dari aspek dirayah, riwayah atau pun aspek pemahaman Hadis. Bahasan bab berikut merupakan bukti bahwa Hadis terpelihara.



























BIBLIOGRAFI
‘Abd al-Ĥayy, Abū al-asanāt Muḥammad ‘al-Luknawi al-Hindi,   Źarf al-Amānī fī Mukhtaṡar al-Jurjāni, India: Dār al-Qalam, 1414 H
al- ‘Asqalāni , Abū Fadl Amad ibn ‘Alī ibn Hajr, Nuzhat al-Nazr Syar Nukhbaţ al-Fikār fī Muşţala Ahl al-Aşar, Madinah: Maktabat al-‘Ilmiyyaţ, t.t.
Abū Dāwud, Sulaiman bin  al-Asy’as al-Sijistāniy , Sunan Abī Dāwud, Indonesia, Maktabah Dahlan, t.t. juz 4 
Abū Rayyah, Mamūd, Aḍwā’ ‘Alā al-Sunnaţ al-Muhammadiyyaţ aw Difā’ ‘an al-Ĥadīṡ, Mesir: Dār al-Ma’ārif, t.t., cet. Ke 6
Abū Zahrah, Muḥammad, al-Syāfiīi Ḥayātuhu wa ‘Aṡruhu, Arā’uhu wa Fiqhuhu, Beirut: Dār al-Fikr, tt.
Ahmad, Ṡalaḥuddin Maqbûl, Zawâbigh
al-Albani,  Muhammad Naşiruddin Al-,  Al-Hadīs ujjat bi Nafsihi fi al- Aqāid wa al-Akām
Azami, M.M., Studies in Hadith Methodology and Literature, Indianapolis: American Trust Publication, 1977, cet. 1 
al-Bukhāri, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il al-, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Indonesia: Maktabaṯ Daḥlan, t.t., juz 2 dan 4
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2007,ed. ke 3. 
al-Dimasyqī , Ţahir al-Jazā’iri  (w.1338 H), Tawjīh al-Nazhr ilā Uûl al-Aşar, editor: ‘Abd al-Fattā Abū Ġuddah, Beirut: Maktab al-Maţbū’at al-Islāmiyyaţ, 1995, cet. 1, vol. 1
al-Ġazali, Abū Hāmid Muammad ibn Muammad, al-Musta fī ‘Ilm al-Uṡūl al-Fiqh, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyat, 1994
Ibn Ḥanbal, Aḥmad, Musnad al-Imām Ahmad ibn Ḥanbal, Beirut, Dar al-Fikr, t.t., juz 3, juz 4, dan juz 5
Ibn Hazm, Abu Muhammad ‘Ali ibn Sa’id al-Zahiri, al-Ikam fī Uşūl al-Akam, Beirut: Dār al-Fikr, t.t., vol 1
Ibn Mājah, Abū ‘Abdillāh ibn Yazid al-Qazwīnī, Sunan Ibn Majah, Indonesia, Maktabat Dahlan, t.t., juz 1
Ibn Manżûr, Muammad  ibn Mukarram ibn ‘Ali ibn Muammad ibn Abû al-Qāsim Ĥabqah , Lisān al-‘Arab, Kairo: Dār al-Ma’ārif, t.t., vol. 2 no. 9
‘Itr, Nūr al-Dīn, Manhaj al-Naqd fī ‘Ulūm al-Ĥadī, Damaskus Dār al-Fikr, 1997, cet. Ke 3
al-Jundi, ‘Abdul Karīm, al-Imām al-Syāfi’i,  Kairo, r al-Kutub al-“Arabī, 1967
al-Khaṭib, Muḥammad ‘Ajjāj, Uṡul al-Ḥadiṣ ‘Ulûmuh wa Muṡṭalāhuh, Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H/1989 M.
al-Khuḍarī, Muḥammad Beik, Uṡūl al-Fiqh, Beirut: Dār al-Fikr, 1988, cet 1
M. Syuhudi Isma’il, Pengantar Ilmu Hadis, Bandung, Angkasa, 1991
Muslim, Abu al-Husain bin Hajjaj, Ṣaḥīḥ Muslim, Indonesia: Maktabaṯ Dahlan, Tt.,  juz 3
al- Qurṫubi,  Muḥammad bin Aḥmad al-, al-Jāmi’ li Aḥkām  al-Qur’ān, Kairo:Dār al-Kutub al-‘Arabī, 1967 M, juz ke 18
Rahman, Fazlur, Islam and Modernity, Transformation of an Intelectual Tradition, Chicago: University of Chicago  Press, 1979, edisi ke 2
al- Rāzi, Abû al-Ĥusain Amad ibn Fāris ibn Zakariyya (w.395H), Mu’jam al-Maqāyis al- Luġaţ, Beirut: Dār al-Fikr, 1979, vol. 2
al-Ṡāliḥ, Ṡubḥi, ‘Ulûm al-Ḥadīṣ wa Muṡṭalāḥuh, Dār ‘ilm li al-Malāyin, 1977
al- Sibai, Musṭafā Al-, al-Sunnaṯ Qabla al-Tadwīn, Beirut, Dar al-Fikr, 1971
..........................., al-Sunnaṯ wa Makānatuhā fī Tasyrī’ al-Islāmī, Beirut, al-Maktab al-Islāmī, 1985
al-Suyuţiy, Jalāl al-Dīn ‘Abd al-Ramān ibn Abū Bakr, Tadrīb al-Rāwī fī Syar Taqrīb al-Nawāwī, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyat, 1989, vol. 1
al-Syafi’ī,  Muhammad ibn Idris al-,  Al-Madkhal Li Dirāsaţ  Al Aqidaţ Al-Islamiyaţ,
…………………., al-Umm yang disertai dengan catatan pinggir (hamisy), juz 7
al-Syaukānī, Muḥammad bin ‘Ali Aḥmad, Fatḥul Qadīr, Beirut: Dār al- Fikr, 1973, juz 1  
al-Turmuzī, Abū ‘Īsā Muammad ibn ‘Isa ibn Ṡaurat, Sunan al-Turmuzī, Indonesia: Maktabaṯ Daḥlan, t.t., juz 3
WJS Poerdawarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1993
al-Zuhaili, Wahbah, Uṡūl al-Fiqh al-Islāmī, Beirut: Dār al-Fikr, 1986, cet 1, vol 1


[1] Lihat M. Syuhudi Isma’il, Pengantar Ilmu Hadis, Bandung, Angkasa, 1991, h. 10
[2]  Ṡubḥi al-Ṡāliḥ, ‘Ulûm al-Ḥadīṣ wa Muṡṭalāḥuh, Dār ‘ilm li al-Malāyin, 1977, h. 4
[3] Ṡubḥi al-Ṡāliḥ, ‘Ulûm al-Ḥadīṣ …, h. 4
[4] Hadis secara etimologis berarti baru, dan peristiwa  Ṡubḥi al-Ṡāliḥ, ‘Ulûm al-Ḥadīṣ …, h. 2, sedangkan Sunnah adalah sirah  dan jalan, Muḥammad ‘Ajjāj al-Khaṭib, (selanjutnya disebut al-Khaṭib), Uṡul al-Ḥadiṣ ‘Ulûmuh wa Muṡṭalāhuh, Beirut: Dar al-Fikr, 1409 H/1989 M, h. 27-28
[5]Kata Hadis sudah merupakan kosa kata baku dalam bahasa Indonesia.  Dalam memberikan penjelasan makna kata tersebut pada awalnya tidak lengkap karena Hadis diartikan sebagai riwayat atau cerita yang bertalian dengan sabda dan perbuatan Nabi Muhammad saw.Lihat, WJS Poerdawarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, 1993, h. 338. Pada edisi revisi, kata Hadis diberi pengertian yang sesuai dengan tulisan ini 1) sabda, perbuatan, dan taqrir (ketetapan) Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan atau diceritakan oleh sahabat untuk menjelaskan dan menentukan hukum Islam. 2) sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Lihat Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2007, edisi ke 3, h. 380. 
[6] Lihat, Muammad  ibn Mukarram ibn ‘Ali ibn Muammad ibn Abû al-Qāsim Ĥabqah ibn Manżûr , Lisān al-‘Arab, Kairo: Dār al-Ma’ārif, t.t., vol. 2 no. 9, h. 236 dan Abû al-Ĥusain Amad ibn Fāris ibn Zakariyya al-Rāzi (w.395H), Mu’jam al-Maqāyis al- Luġaţ, Beirut: Dār al-Fikr, 1979, vol. 2, h. 36
[7]M.M. Azami, Studies in Hadith Methodology and Literature, Indianapolis: American Trust Publication, 1977, cet. 1, h. 1-2 
[8] al-Khaṭib, Uṡulh. 18 dan Subhi al-Ṡāliḥ, Ulûm.., h. 3
[9] Lihat misalnya Abu Muhammad ‘Ali ibn Sa’id Ibn Hazm al-Zahiri, al-Ikam fī Uşūl al-Akam, Beirut: Dār al-Fikr, t.t., vol 1 h. 90, dan Abū Hāmid Muammad ibn Muammad al-Ġazali, al-Musta fī ‘Ilm al-Uṡūl al-Fiqh, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyat, 1994, h. 103-104
[10]  al-Khaṭib, Uṡul…, h. 27
[11] Jalāl al-Dīn ‘Abd al-Ramān ibn Abū Bakr al-Suyuţiy, Tadrīb al-Rāwī fī Syar Taqrīb al-Nawāwī, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyat, 1989, vol. 1, h. 42
[12] Lihat, Nūr al-Dīn ‘Itr, Manhaj al-Naqd fī ‘Ulūm al-Ĥadī, Damaskus Dār al-Fikr, 1997, cet. Ke 3, h. 26-27, M.M. Azami, Studies…, h. 3   
[13] Lihat, Abū Fadl Amad ibn ‘Alī ibn Hajr al-‘Asqalāni, Nuzhat al-Nazr Syar Nukhbaţ al-Fikār fī Muşţala Ahl al-Aşar, Madinah: Maktabat al-‘Ilmiyyaţ, t.t., h. 18
[14] Ţahir al-Jazā’iri  al-Dimasyqī (w.1338 H), Tawjīh al-Nazhr ilā Uûl al-Aşar, editor: ‘Abd al-Fattā Abū Ġuddah, Beirut: Maktab al-Maţbū’at al-Islāmiyyaţ, 1995, cet. 1, vol. 1, h. 37
[15] Lihat ibn Manzūr, lisan…, vol. 3, no. 22, h. 2125,  al-Khaţib, Uşul…. H. 17
[16] Seperti yang dikutip oleh Abu  Rayyah dari Ibn Taimiyah, lebih lengkap lihat Mamūd Abū Rayyah, Aḍwā’ ‘Alā al-Sunnaţ al-Muhammadiyyaţ aw Difā’ ‘an al-Ĥadīṡ, Mesir: Dār al-Ma’ārif, t.t., cet. Ke 6, h. 36
[17]  Musṭafā Al-Sibai (selanjutnya disebut Al-Sibai), al-Sunnaṯ wa Makānatuhā fī Tasyrī’ al-Islāmī, Beirut, al-Maktab al-Islāmī, 1985, h. 47 dan Al-Khaṭib, Uṡul…., h. 19
[18]  Abū al-asanāt Muḥammad ‘Abd al-Ĥayy al-Luknawi al-Hindi,   Źarf al-Amānī fī Mukhtaṡar al-Jurjāni, India: Dār al-Qalam, 1414 H, h. 32
[19] Al-Khaṭib, Uṡul…., h. 18, Subhi al-Ṡāliḥ Ulûm..., Musṭafā Al-Sibai, al-Sunnaṯ Qabla al-Tadwīn, Beirut, Dar al-Fikr, 1971, h. 15-16
[20] Sebagian ulama mengatakan bahwa  sunnah lebih luas dari Hadis, sementara ulama lain menyatakan bahwa Hadis lebih luas dari Sunnah, karena Hadis lebih umum meliputi perkataan dan perbuatan sementara Sunnah hanya terbatas pada perbuatan Rasul saw. saja. Lihat,   Subhi al-Ṡāliḥ, Ulûm...., h. 6
[21] Lihat Wahbah al-Zuhaili, Uṡūl al-Fiqh al-Islāmī, Beirut: Dār al-Fikr, 1986, cet 1, vol 1, h. 450, dan Muḥammad al-Khuḍarī Beik, Uṡūl al-Fiqh, Beirut: Dār al-Fikr, 1988, cet 1, h. 213
[22] Lihat al-Zuhaili,  Uṡūl …., h. 450
[23] Al-Siba’ī, al-Sunnah wa Makanatuha…, h. 49, 
[24] Al-Khaṭib, Uṡūl …., h. 25
[25] Hal itu terlihat dari perkataan ‘Ali bin Abi Ţalib kepada ‘Abdullah ibn Ja’far  ketika menjatuhkan hukuman pecut bagi peminum khamar sebanyak 40 kali: “cukup, Rasulullah menghukum dengan 40 kali, Abu Bakar juga 40 kali, ‘Umar menyempurnakannya menjadi 80 kali. Dan semuanya sunnah.  Al-Khaṭib, Uṡul…., h. 26 Hadisnya terdapat dalam Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj (selanjutnya disebut Muslim), Ṣaḥīḥ Muslim, Indonesia: Maktabaṯ Dahlan, Tt.,  juz 3, h. 1331-1332 dan Sulaiman bin  al-Asy’as al-Sijistāniy Abi Dāwud (selanjutnya disebut Abū Dāwud), Sunan Abī Dāwud, Indonesia, Maktabah Dahlan, t.t. juz 4, h. 163-16
[26] Muhammad bin Isma’il al-Bukhari (selanjutnya disebut al-, Bukhāri), Ṣahīh al-Bukhāri, Indonesia, Dahlan, tt., juz 2, h. 618
[27] Fazlur Rahman, Islam and Modernity, Transformation of an Intelectual Tradition, Chicago: University of Chicago  Press, 1979, edisi ke 2, h. 54-57
[28] Imam Syafi’I seperti yang dikutip oleh al-Ṡāliḥ, Ulûm...., h. 10-11,
[29] Muhammad ibn Idris al-Syafi’ī,  Al-Madkhal Li Dirāsaţ  Al Aqidaţ Al-Islamiyaţ,  hal. 24
[30] Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṫubi, al-Jāmi’ li Aḥkām  al-Qur’ān, Kairo:Dār al-Kutub al-‘Arabī, 1967 M, juz ke 18, h. 17
[31] Muḥammad bin ‘Ali Aḥmad al-Syaukānī, Fatḥul Qadīr, Beirut: Dār al- Fikr, 1973, juz 1, h. 333  
[32] Ulama yang namanya dicatat dalam sejarah sebagai penerima penghargaan sebagai Penolong Sunnah (Naṣir al-Sunnah) lihat, Muḥammad Abū Zahrah, al-Syāfiīi Ḥayātuhu wa ‘Aṡruhu, Arā’uhu wa Fiqhuhu, Beirut: Dār al-Fikr, tt., h. 214, ‘Abdul Karīm al-Jundi, al-Imām al-Syāfi’i,  Kairo, r al-Kutub al-“Arabī, 1967, h. 295 dan 300
[33] Muḥammad bin Idris al-Syāfi’ī, al-Umm yang disertai dengan catatan pinggir (hamisy), juz 7, h. 250-265
[34]  Dalam Hadis, Rasul secara tegas batas minimal jumlah barang yang dicuri yang diancam dengan hukuman potong tangan 3 (tiga) dirham atau ¼ (seperempat) dinar dalam Hadis riwayat Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il al-Bukhāri, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Indonesia: Maktabaṯ Daḥlan, t.t., juz 4, h. 2715-2716,  Muslim, Ṣaḥīḥ,  juz 3, h. 1312-1314, Abū ‘Īsā Muammad ibn ‘Isa ibn Ṡaurat al-Turmuzī, Sunan al-Turmuzī, Indonesia: Maktabaṯ Daḥlan, t.t., juz 3, h. 3-4, Abū Dāwud, Sunan,  juz 4, h. 136
[35] Dalam eksekusi bagi pelaku pencurian, Rasul memotong tangan pencuri sampai pergelangan tangan (Hadis riwayat al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ…., juz 4, h. 2714
[36] Muhammad  Naşiruddin Al-Albani,  Al-Hadīs ujjat bi Nafsihi fi al- Aqāid wa al-Akām, h. 19-20
[37] al-Siba’i,  As-Sunnaṯ wa Makânatuha…,  h. 156
[38] Ibnu Ḥazm, al-Ihkām  fī Uṡul al-Aḥkam, juz 1, h. 121
[39] al-Siba’i, al-Sunnah wa Makānatuha…, h. 156-158
[40]alaḥuddin Maqbûl Ahmad, Zawâbigh,  hal.8
[41] Al-Bukhārī, Saḥīḥ, manaqib 38, Muslim, Saḥīḥ , juz 3,  h. 1523-1524, al-Turmuzi, Sunan…, juz 3, h. 342 Abū ‘Abdillāh ibn Yazid al-Qazwīnī Ibn Mājah, Sunan Ibn Majah, Indonesia, Maktabat Dahlan, t.t., juz 1, h. 5 dan 6; Aḥmad bin Ḥanbal, Musnad al-Imām Ahmad ibn Ḥanbal, Beirut, Dar al-Fikr, t.t., juz 3, h. 136, juz 4, h. 97 dan 101 dan juz 5, h. 34, 35 dan 279