Indahnya Ketentuan Islam ttg Orang Tua dan Anak

Pada awalnya, semua anak perempuan harus mengikuti semua kemauan orang tuanya. Ironisnya, dalam kitab Fiqh masih dikenal istilah mujbir untuk bapak dan kakek

Penerimaan Hadis Ahad oleh Imam Mazhab Fiqh

Dari segi wurudnya, hadis ahad tersebut dikategorikan zhanni al-wurud. Zhanni wurud pada hadis ahad ini disebabkan oleh karena hadis ahad diriwayatkan oleh periwayat yang jumlahnya tidak mendatangkan keyakinan tentang kebenarannya.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Baitullah Impian Setiap Muslim post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Baitullah Impian Setiap Muslim

Tempat Khusus yang Penuh Berkah

Senin, 24 Maret 2014

PEMILIHAN PEMIMPIN


A. PENDAHULUAN
Pada saat ini, bangsa Indonesia dihadapkan pada pemilihan pemimpin secara langsung dalam berbagai level kepemimpinan.  Pada tataran ini pemilihan langsung tersebut mulai dari kepala desa atau lurah sampai pada presiden. Bahkan pada pimpinan legislatif pun masyarakat memilih secara langsung para calon yang dicalonkan. Kenyataan seperti ini memberikan peluang bagi pemilih dan yang dipilih untuk menggunakan haknya secara lebih terbuka. Di sisi lain, baik pemilih atau pun yang dipilih tentunya harus memiliki pemahaman tentang apa dan bagaimana pemimpin yang akan dipilih.              
Pemilihan dan penentuan pemimpin merupakan issu yang sangat hangat dan menjadi perhatian masyarakat Indonesia, terutama dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur dan legislatif sebagai wakil rakyat pada tanggal 9 April 2014 yang akan datang dan dalam menghadapi pemilihan kepala daerah di tingkat propinsi dan kabupaten atau kota yang akan datang. Untuk menentukan pemimpin yang diharapkan dan dapat menjadi pemimpin masyarakat merupakan tugas berat dan menjadi harapan seluruh masyarakat.
Apabila kita kembali kepada masa awal Islam, sudah menjadi catatan sejarah bahwa pada hari pertama setelah wafatnya Rasulullah Saw. persoalan yang muncul di kalangan umat Islam bahkan sempat menjadi masalah  yang diperselisihkan adalah persoalan imamat (kepemimpinan) [1]  Kemudian masalah tersebut pun  muncul lebih mencuat pada masa Ali - Muawaiyah.
Namun bukan berarti bahwa masalah pemimpin ini tidak menjadi perhatian Rasulullah Saw. pada masanya.  Hal itu terlihat dari pesan, aturan dan ketentuan yang ditetapkan oleh Rasulullah Saw. dalam berbagai sabdanya. Bahkan jika diperhatikan masalah kepemimpinan tersebut dilihat dalam pengertian mikro dan makro.
Dilihat dalam kehidupan ini, eksistensi pemimpin merupakan sesuatu hal yang sangat urgen.  Hal itu terlihat dari adanya pengarahan Rasulullah Saw. agar untuk kelompok mini, dalam hal ini diatas 2 orang saja,  ada keharusan untuk menunjuk seorang pemimpin. [2]  Ini menunjukkan bahwa pemimpin adalah hal yang tak terpisahkan dalam masyarakat, mulai dari tingkat yang paling kecil sampai pada masyarakat luas.
Dalam khasanah Islam baik Al-Qur'an dan hadis dalam mengungkap pemimpin terdapat beberapa istilah yang digunakan. Ada kata khalifah, sulthan, amir dan imam yang mempunyai pengertian yang berkaitan dengan tugas seorang pemimpin.
Kata  khalifah sesuai dengan penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi, terdapat dalam Al-Qur'an pada dua tempat[3], sedangkan dalam bentuk jama’ terdapat pada empat tempat di tiga surat. [4]  Kata ini secara etimologis mempunyai tiga makna pokok, yaitu mengganti, belakang dan perubahan. [5] Dengan demikian kata ini bermakna penggantian terhadap yang lain, karena ketiadaan, kematian, ketidakmampuan dan karena kemuliaan yang diwakili. Jika dihubungkan dengan Allah, maka  pengertian terakhirlah yang lebih dekat.[6] Ini  dapat saja dipahami bahwa pemimpin itu adalah wakil Allah dalam mengatur kehidupan masyarakat.  Namun apabila tidak dihubungkan dengan Allah, maka pemimpin itu adalah wakil dari orang yang dipimpinnya untuk memperjuangkan haknya.
Pemimpin dengan penggunaan kata sulthan  yang berakar huruf sin, lam, dan tha’ mempunyai makna kekuatan dan paksaan. [7] Kata sulthan dalam Al- Qur'an bermakna kekuasaan, karenanya ada yang berkonotasi sosiologis yaitu kemampuan untuk mengatasi orang lain. Dengan demikian, kata sulthan mempunyai makna kemungkinan untuk memaksa,[8]  kata ini dapat   juga ber makna orang yang memiliki kekuatan dan kekuatan memaksa.[9]
Amir mungkin lebih dekat dengan fungsinya sebagai pemimpin yang selalu memberikan instruksi atau perintah.[10] Dapat dikatakan bahwa penamaan dengan istilah tersebut  sesuai dengan berbagai fungsi yang harus ada. Dan dimiliki oleh seorang pemimpin.

B. ESENSI PEMIMPIN

Kepemimpinan adalah tanggung  jawab yang akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah.  Oleh sebab itu, seorang yang diangkat untuk menjadi pemimpin dalam suatu urusan berarti diserahi untuk mengemban tanggung jawab mengurusnya. Pemimpin yang dipilih oleh masyarakat diharapkan dapat mengurus kepentingan masyarakat tersebut.  Bukan sebaliknya, masyarakat dijadikan objek untuk mencari keuntungan pribadi. 
Seringkali  orang berpendapat bahwa kepemimpinan yang diserahkan kepadanya itu sebagai hak, sehingga kemudian menjadikan masyarakat yang dipimpinnya sebagai sumber dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya dan mengabaikan kepentingan orang yang dipimpinnya.   Kenyataan ini juga sering sebagai pemicu munculnya rasa tidak senang terhadap pemimpin tersebut.
Disinyalir bahwa orang akan berambisi untuk menjadi pemimpin, dalam sebuah hadis \rasulullah menyampaikan: Sesungguhnya kamu nanti akan berambisi untuk menduduki jabatan pemimpin dan itu akan kamu sesali, enaknya  spt bayi yg sedang menyusu dan tidak enaknya seperti bayi yang disapih. (hadis riwayat al-Buhari al-ahkam dan al-Nasa'i dalam adab al-qadha)
Rasul telah memberikan koridor dan tuntunan tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin bersikap terhadap orang yang dipimpinnya, sehingga ia dapat dianggap menjalankan tugasnya dan mendapat kan kesuksesan kelak.   Hadis berikut ini mengemukakan dengan gamblang tugas seorang pemimpin  dan balasan apa yang diterimanya kelak jika tidak  menjalankan tugasnya itu.
أَنَّ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنَ زِيَادٍ عَادَ مَعْقِلَ ابْنَ يَسَارٍ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَقَالَ لَهُ مَعْقِلٌ إِنِّي مُحَدِّثُكَ بِحَدِيثٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ بِي حَيَاةً مَا حَدَّثْتُكَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ [1]

‘Ubaidillah bin Ziyad menjenguk Ma’qil bin Yasar yang sedang sakit. Ma’qil berkata: “Saya akan menyampaikan hadis yang pernah saya dengar dari Rasulullah saw.  Seandainya saya tahu bahwa saya akan tetap hidup, saya tidak akan menyampaikannya kepadamu.  Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Tidak ada bagi seseorang yang diberi amanah oleh Allah untuk mengurusi rakyat (pemimpin), ia meninggal sementara ia tidak melakukan tugasnya kecuali Allah mengharamkan surga untuknya.
 
Dalam beberapa hadis Rasul menyatakan bahwa pemimpin itu harus atas dasar permintaan orang yang akan dipimpin bukan atas dasar permintaan calon pemimpin.  Hal itu disebabkan masyarakatlah yang mengetahui dan menilai orang yang pantas dan mampu  memimpin dan mengurus kepentingan mereka. Pemimpin tanpa restu masyarakat akan menjadi faktor pendorong munculnya kerusakan, kebinasaan dan bencana. Dalam segala hal pemimpin memang  sangat penting karena dengan pemimpinlah semua kekhawatiran dapat diatasi dan hak-hak akan dilindungi.
Bagi pemimpin, kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepadanya merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkannya kepada orang yang memilih dan kepada Allah kelak. Jadi jabatan yang didapatnya bukan merupakan lahan untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dan bukan pula sebagai unjuk kekuasaan dengan memerintahkan orang lain melakukan sesuatu sekehendak hatinya atau melakukan hal yang tidak baik.
Di dalam hadis secara eksplisit dinyatakan bahwa pemimpin  yang ditugasi mengurus kepentingan masyarakat harus melaksanakan tugas melayani kepentingan masyarakat yang dipimpinnya.  Dalam hal ini pemimpin pada hakikatnya adalah pelayan masyarakat, yang diberi kepercayaan oleh masyarakat demi untuk kepentingan mereka.  Hal itu terlihat dari ancaman yang diberikan oleh Rasul bahwa Allah mengharamkan surga bagi pemimpin yang tidak menjalankan tugasnya untuk mengurus kepentingan masyarakat.  Ancaman tersebut menunjukkan bahwa pemimpin tidak boleh mengabaikan kepentingan masyarakat dan mementingkan kepentingannya sendiri.
Secara jelas dapat dipahami bahwa tugas sebagai pemimpin itu berat dan beresiko apabila lalai  dalam menjalankan amanah yang sudah dibebankan di pundaknya. Oleh sebab itu,  Rasul dalam hadis lain  menetapkan dalam putusannya tidsk sksn memberikan kepemimpinan kepada orang yang memints dan mempunyai ambisi pribadi yang sangat kuat.[2]
Untuk mempermudah tugas pemimpin dalam  mengurus kepentingan masyarakatnya dan menghindarkan diri dari ancaman Allah dalam hadis di atas, dalam hadis lain Rasul menyatakan bahwa Allah akan memberikan pertolongan-Nya kepada pemimpin yang mendapatkan kedudukan sebagai pemimpin itu bukan atas dasar permintaan dan ambisi pribadinya. Sebaliknya, Allah akan menyerahkan sepenuhnya beban dan resiko tersebut kepada orang yang mendapatkan kursi pemimpin tersebut atas dasar permintaan dan ambisi pribadinya. [3]



[1] Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Ahkam bab “orang yang diminta menjaga rakyat, Muslim dalam kitab iman dan kitab imarah.
[2] Hadis riwayat al- Bukhari dalam kitab Ahkam  dan Muslim dalam kitab imarah.
[3] ibid.

C. KRITERIA PEMIMPIN DALAM ISLAM
Ada beberapa ketentuan yang ditemukan dalam hadis Rasulullah saw. mengenai  kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kriteria tersebut meliputi berbagai aspek, yaitu kemampuan (kapabilitas) pribadi, tidak ambisius, perolehan dukungan, dan empati terhadap keamanan an kesejahteraan masyarakat

 1. Kemampuan pribadi
            Kemampuan menjadi pemimpin didukung oleh kemampuan pribadi untuk mempengaruhi dan mengatur orang yang dipimpin. Hal itu terlihat dari perlakuan Rasulullah Saw. terhadap Abu Zar yang dinilai oleh Rasulullah Saw. tidak memiliki kemampuan dalam memimpin dan mengelola orang lain.  Hal itu dapat diketahui dari hadis berikut:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي لا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ وَلا تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ [11]
Artinya: Dari Abi Zar sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: Hai Abu Zar, saya melihatmu lemah dan aku menginginkan untukmu apa yang aku inginkan untuk diriku. Janganlah engkau menjadi pemimpin untuk dua orang dan jangan menjadi wali yang menjaga harta anak yatim
            Dalam hadis di atas, Rasulullah Saw. menyatakan bahwa Abu Zar ضعيف yang dalam perbendaharaan bahasa Arab kata tersebut mempunyai makna “lawan dari kuat”, bisa lemah jiwa, badan dan kondisi.[12] Dalam konteks ini mungkin Abu Zar menurut penilaian Rasul tidak memiliki kemampuan untuk memimpin. Ketidakmampuannya mungkin karena tidak tegas, tidak cermat dan tidak cakap.
            Hal itu terlihat dari indikasi yang diungkapkan oleh Rasul diakhir hadis dia tidak mampu bahkan untuk memimpin dua orang. Begitu juga Abu Zar dianggap tidak mampu untuk menjadi wali yang mengelola harta anak yatim. Pada hal kalau dilihat kualitas pribadinya, Abu Zar termasuk sahabat yang sangat tinggi komitmennya terhadap Islam dan memiliki keutamaaan yang tidak sedikit. [13] Hal itu menunjukkan bahwa ketidakmampuan (da’if) dalam penilaian Rasul mungkin  dalam memimpin dan mengelola kepentingan orang lain.

2.   Tidak ambisius
            Proses perolehan jabatan pimpinan pun merupakan perhatian serius dalam Islam. Menjadi pemimpin tidak didasarkan pada ambisi pribadi. Hal itu secara tegas dapat dilihat dalam berbagai ketentuan Rasul yang secara eksplisit dan tegas melarang para sahabatnya minta diangkat sebagai pemimpin.  Hal itu dilakukan oleh Rasul dengan berbagai cara:

a. Dalam bentuk larangan yang diiringi dengan konsekwensi yang akan diterima.
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. berikut ini dapat dilihat pernyataan beliau kepada Abdur Rahman:
يا عبد الرحمن لا تسأل الامارة فانك ان أعطيتها عن مسألة وكلت اليها وان أعطيتها عن غير مسألة أعنت عليها [14]
Artinya: Rasul bersabda: Hai ‘Abdurrahman jangan engkau memnta menjadi pemimpin, karena jika engkau memimpin atas dasar permintaanmu engkau akan diserahi sepenuhnya. Tapi jika engkau diberikan kepercayaan untuk memimpin tanpa meminta engkau pasti akan menda[patkan bantuan.
Dalam hadis di atas, seseorang dilarang untuk meminta atau berambisi menjadi pemimpin. Larangan  tersebut ditujukan pada orang yang mempunyai ambisi untuk menjadi pimpinan, tanpa memperhatikan apakan ia mempunyai kemampuan pribadi atau tidak. Orang yang dinilai oleh pihak lain mampu untuk menjabat suatu jabatan tertentu.tentu tidak masuk dalam kategori ini. Jika dikaitkan dengan proses pemilihan pemimpin pada masa sekarang, maka meskipun seseorang meminta, ia hanya melakukan pengajuan sebagai calon, sedangkan penetapannya didasarkan atas dasar pemilihan.
Memperhatikan hadis dia atas, dapat dipahami bahwa proses pengangkatan pemimpin didasarkan atas permintaan pihak lain, yang menilai dan mengetahui kemampuan seseorang untuk memimpin komunitas tersebut bukan atas dasar permintaan pribadi kepada pengambil keputusan untuk diangkat menjadi pemimpin.
Larangan tersebut diikuti dengan ancaman bahwa pemimpin yang diangkat atas dasar permintaannya akan ditinggalkan dan dibiarkan sendiri melakukan tugasnya tanpa bantuan dari Allah dan atau dari pendukung (karena tidak memiliki pendukung) Beda dengan orang yang diangkat menjadi pemimpin atas dasar permintaan komunitas yang dipimpin atau oleh orang lain, maka dalam hadis dijanjikan akan mendapat bantuan dalam pelaksanaan tugasnya. Karena orang yang mendukungnya secara moral merasa .memiliki tanggung jawab juga.

b. Larangan yang  diikuti dengan ancaman.
Dalam hadis lain, Abu Zar diingatkan Rasul ketika ia meminta kepada Rasul untuk diangkat menjadi pemimpin, bahwa jabatan itu adalah amanah sementara ia dinilai sebagai orang  yang tidak mampu untuk melaksanakan tugas pemimpin  tersebut.  Disamping itu, diingatkan juga bahwa jabatan itu dapat mendatangkan kehinaan dan penyesalan nanti (di akhirat), kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan proses yang benar dan dapat menjalankan tugas dengan baik.[15] 
Menurut  al-Nawawi, bahwa kehinaan dan penyesalan itu ditujukan bagi orang yang tidak memiliki kapabilitas untuk memimpin atau orang yang kapabel, tapi tidak dapat berlaku adil dalam menjalankan tugas yang diembannya. Sementara bagi yang mampu dan dapat berlaku adil, maka banyak hadis shahih yang menjelaskan keutamaan yang akan diberikan kepadanya [16]
Dapat dipahami bahwa larangan meminta jadi pemimpin tersebut bagi orang yang dilihat dari realitas kesehariannya dapat dinilai tidak memiliki  kemampuan untuk memimpin dan mengurusi kepentingan orang lain. Jabatan pimpinan apapun yang diperoleh atas dasar ambisi pribadi akan berimplikasi  pada pemenuhan kebutuhan pribadi, menjadikan jabatan sebagai sarana memperkaya diri dsn sejenisnya. Sehingga  dalam pelaksanaan tugas pemimpin sedikit sekali memperhatikan kepentingan komunitas yang dipimpin.

c. Pernyataan Rasul tidak akan mengangkat seseorang menjadi pemimpin atas dasar permintaan dan ambisius.
Banyak cara yang digunakan Rasulullah Saw. dalam menyampaikan pesan keagamaan, sehingga umat Islam dapat melihat dari berbagai aspek dan sudut pandang. Di samping dengan bentuk larangan Rasul juga memberikan ketegasan dalam bersikap atas permintaan sahabat untuk menduduki jabatan tertentu.  Hal itu secara tegas dikemukakan Rasul dalam hadis berikut:
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلانِ مِنْ بَنِي عَمِّي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِّرْنَا عَلَى بَعْضِ مَا وَلاكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَقَالَ الاخَرُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّا وَاللَّهِ لا نُوَلِّي عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلا أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ  [17]
Artinya: Dari Abu Musa: Aku datang bersama dua orang lain kepada Rasulullah Saw. , salah seorang dari mereka berkata: ya Rasulullah Saw. jadikanlah kami pemimpin terhadap yang lain dan yang lain berkata seperti itu juga, lalu Rasulullah Saw. Menjawab: Demi Allah sesungguhnya kami tidak mengangkat seseorang untuk mengurusi masalah ini atas dasar permintaannya dan tidak juga seseorang yang ambisi terhadap jabatan itu.
Dapat dipahami bahwa konsistensi aturan Rasul tidak memberikan peluang kepada orang yang meminta dan orang yang berambisi untuk menduduki jabatan. Hal itu terlihat dari ketegasan beliau untuk tidak mengangkat orang yang minta dan orang yang berambisi terhadap jabatan itu.

 3.   Perolehan dukungan
Untuk memimpin atau menjadi pemimpin bukan suatu hal yang mudah, dan tidak bisa berjalan sendiri. Tetapi tugas sebagai pemimpin akan dapat dilakukan dengan bantuan pihak lain. Oleh sebab itu, kriteria pemimpin yang akan berhasil adalah pemimpin yang memiliki pendukung, yang disenangi dan menyenangi oleh dan kepada komunitas yang dipimpinnya.  Hal itu secara jelas dikemukakan oleh Rasul dalam hadis berikut:
عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خِيَارُ أَئِمَّتِكُمِ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمِ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ.....
Artinya: Dari ‘Auf bin Malik Rasulullah Saw.  bersabda: Sebaik-baik pemimpinmu adalah mereka yang kamu sayangi dan menyayagimu mereka mendoakan kamu dan  kamu mendo’akan mereka.  Pemimpin yang tidak baik adalah yang kamu benci dan membenci kamu, kamu melaknat mereka dan mereka melaknat kamu.
Dalam hadis di atas dijelaskan bahwa pemimpin terbaik adalah pemimpin yang menyayangi dan disayangi orang yang dipimpinnya, mendoakan dan dido’akan orang yang dipimpinnya. Ini menunjukkan bahwa pemimpin terbaik adalah yang mendapatkan tempat dan dukungan dari komunitas yang dipimpin.
Sebaliknya pemimpin yang terjelek adalah pemimpin yang membenci dan dibenci orang yang dipimpinnya, dikutuk oleh dan mengutuk orang yang dipimpinnya.  Namun, dalam menghadapi pemimpin yang pada awalnya diangkat tapi dalam perjalanan kepemimpinannya tidak baik Rasul di akhir hadis tersebut memberikan arahan agar tetap memberikan dukungan dengan cara membenci prilakunya yang menyimpang dari ketentuan Allah, dengan tidak menentang dengan kekerasan terhadapnya. Bahkan dari dialog antara sahabat dengan Nabi saw terlihat bahwa beliau tidak mengizinkan muslim mengangkat senjata terhadap pemimpin yang menyimpang selama ia masih mengerjakan shalat.
Hal ini menunjukkan bahwa pemimpin sekalipun, sebagai manusia  biasa, mempunyai potensi untuk berlaku tidak benar, sehingga komunitasnya mempunyai kewajiban untuk mengingatkan bukan untuk memberontak.  Hal itu terlihat jelas dari aturan Rasul berikut:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ أَعْظَمِ الْجِهَادِ كَلِمَةَ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ[18]
Artinya: Dari Abi Sa’id al-Khudri ses8ngguhnya Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya jihad terbesar adalah perkataan/pernyataan  bijak terhadap  pemimpin yang menyeleweng.
Dalam hadis di atas terlihat bahwa salah satu bentuk dukungan adalah dengan cara peringatan yang diberikan berupa kata bijak, dalam hal ini memberikan nasehat, kritik dan saran secara baik terhadap pemimpin yang menyeleweng dari jalan Allah termasuk salah satu bentuk jihad yang terbesar.  Dalam menghadapi kesewenangan pemimpin yang lalim, dengan cara mengingatkan mereka bukan dengan cara memerangi atau menentang dengan kekerasan atau pun kudeta.
Berdasarkan hadis tersebut dan untuk menjaga agar dalam suatu masyarakat atau wilayah tetap ada pemimpin, para ahli Fiqh sepakat siapa saja yang telah menetapkan pemimpinnya haram hukumnya menentang atau memeranginya[19]  Hal ini agaknya sebagai konsekwensi dari aturan sebelumnya yaitu pemimpin diangkat bukan atas dasar permintaannya sendiri dan itu artinya diminta atau dipilih atau ditunjuk sebagai pemimpin.  Sehingga tidak pantas untuk memerangi dan menentangnya jika kemudian ada yang tidak berkenan.

4.  Empaty terhadap Keamanan dan Kesejahteraan Rakyat
Pemimpin merupakan sosok yang diharapkan dapat memberikan perlindungan, memikirkan kepentingan yang dipmpin, dan dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi.  Berbeda dengan bayangan orang bahwa pemimpin adalah perolehan berbagai fasilitas, dalam Islam tugas pemimpin adalah memberian pelayanan kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Rasul dengan tegas dan jelas memberikan ancaman kepada pemimpin yang tidak mengemban amanah dalam hadis, bahwa : pemimpin yang sudah diserahi tampuk pemimpin, namun ia tidak mengurus kepentingan masyarakat atau tidak mperhatikan keamanan dan kesejahteraan masyarakat, jika ia mati maka haram baginya surga.[20]  Dalam hadis lain, dengan redaksi yang berbeda, Rasul menjelaskan bahwa pemimpin yang seperti itu tidak akan masuk surga bersama mereka yang dizalimi hak-haknya.[21]
Pernyataan dan ancaman Rasul ini memberikan arahan bahwa ketika seorang menjabat pimpinan, tidak dapat berlaku semaunya dan memikirkan kepentingan pribadi atau golongannya saja. Akan tetapi ia harus memikirkan kepentingan dan kesejahteraan yang dipimpinnya.



D.  PENUTUP
Hubungan pemimpin dan yang dipimpin tidak terlepas dari adanya kewajiban salah satu pihak yang merupakan hak pihak lain, sehingga aturan yang mengatur tentang hal itu secara komprehensif harus diungkap agar aturan tersebut  tegas dan jelas. Aturan yang tidak sefihak, tetapi menyentuh semua


[1] Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim bin Abi Bakr Ahmad al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, (Mesir: Mustafa al-Bab al Halabi wa Auladuh) juz 1, h. 24.
[2]
[3] Q.S. al-Baqarah/2: 30 dan Q.S. Shad/38: 26.
[4] Q.S. al-An’am/6:55, Q.S.Yunus/10: 14 dan 73 dan Q.S.Fathir/35:39.
[5] Abu al-Husain Ahmad Ibn Faris bin Zakariyya, (selanjutnya di sebut Ibn Faris) Mu’jam Maqayis al-Lughat, jilid 4, Mesir: Mushthafa al-Babi al-Halabi wa Syarikah, 1972/1392, h. 210 dan al Raghib al-Ishfahani, Mufradat Alfaz Al-Qur'an (Beirut: Al-Dar al-Syamiyah, 1412/1992) , h. 238
[6] Ibid.h. 294.
[7] Ibn Faris, op.cit.,  juz 3, h. 95
[8] ibid., h. 420
[9] ibid.,
[11] Muslim, kitab imarah, no. 3405, Abu Daud, kitab al-Washaya, no. 3607 dan al-Nasa’i, kitab al-Washaya, no. 2484.
[12] Al-Raghib al-Ishfahani, op.cit., h. 506-507
[13] Syihabuddin Abi al-Fadl Ahmad bin Ali bin Hajar al-’Asqalani, Tahzib al-Tahzib, juz 11, India: Dairat al-Ma’arif, 1327, h. 90-91, Abu Muhammad bin Ahmad bin Sa’id bin Hazm al-Thahiri, Asma’ al-Shahabah al-Ruwah, .Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1412/1992, h. 47 dan Khalid Muhammad Khalid, Rijal Haul al-Rasul, Beirut: Dar  al-Fikr, tt., h. 59-78
[14] Al-Bukhari, kitab al-Aiman wa al-Nuzur, no. 6132, kitab Kaffarat aiman, no. 6227, kitab ahkam,, no. 6613-6614, Muslim, kitab al-Imarah, no. 3401, 3404 dan 3405, al-Tirmizi, kitab aiman wa nuzur, no. 1449, al-Nasa’i, kitab adab al-Qudhah,  no. 5289, Abu Daud, kitab al-Kharaj wa al-imarah wa al-Fai’, no. 2540, al-Darimi, kitab al-Nuzur wa al-aiman, no. 2241, dan ahmad bin hanbal, musnad al-Bashriyyin, no. 19704, dan 19712.
[15] Muslim, Shahih Muslim, jld 3, h. 1457
[16] ibid.,
[17] Muslim , ibid., h. 1456  
[18] Al-Turmuzi, op.cit., juz 3, h. 318, Menurut al-Turmuzi Hadis ini Hasan garib dari jalur ini. Hasan garib dalam khasanah al-Turmuzi adalah penggabungan antara kualitas sanad dan atau Hadis dengan jalur sanad.  Dalam Hadis ini dinyatakan gartb karena hanya satu jalur sanad.  Sedangkan pernyataan Hasan karena kualitas sanadnya tidak sampai pada tingkatan aḥiḥ. Muammad ‘Ajjaj al-Khaib, Uṣṻl al-adῑṣ ‘Ulumuh wa Muṣṫalauh, (Beirut: Dr al-Fikr, 1979 M/ 1409 H.), h. 335-336.  Penilaian asan itu mungkin karena salah seorang sanadnya yaitu ‘Aiyyah(w. 111 H.) dinilai a’f dan layyin  oleh pra kritikus periwayat Hadis.  Lihat  al-ھahabi, op.cit., juz 5, h. 100-101.  Hadis ini juga diriwayatkan Ibn Majah, op.cit., juz 2, h. 1329,  dan Ahmad bin Hanbal op.cit., juz 3, h. 19, juz 4, h. 314, juz 5, h. 251 dan 256.  Pada jalur sanad Ahmad bin Hanbal, Ab­ al-Na«rah (w. 109 H.)salah seorang murid Ab­ Sa’id dinilai  ثقة  oleh semua kritikus periwayat Hadis, lihat   al-’Asqal±n³,juz 10, h. 302-303.  Dengan demikian kualitas Hadis ini ¢a¥³¥.  Skema lengkap jalur Hadis ini terlampir pada lampiran I. 12.
[19] Ibn Qudamah,  alMughni,  juz 8, h. 104.
[20] Al-Bukhari, ibid., kitab ahkam, no. 6617 dan 6618 dan Muslim, ibid, no. 3409 dan 3410
[21] Muslim, ibid.
[22] Muslim, ibid., h. 1466
[23] Seperti yang dinukil oleh al-Nawawi dalam ibid.,
[24] Al- Zarqani, al- Muwaththa’ li al-Zarqani, juz 2, h. 292.
[25] Muslim, op.cit., h. 1474-1475
[26] Muslim, op.cit.,h. 1469
[27] ibid.,







BIBLIOGRAFI
Abu Daud, Sunan Abi Daud,
Ahmad bin hanbal, Musnad Imam Amad bin Hanbal
al-Bukhari, Shahih al-Bukhari
al-Darimi, Sunan al-Darimi.
Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad, Mu’jam Maqayis al-Lughat, jilid 4, Mesir: Mushthafa al-Babi al-Halabi wa Syarikah, 1972/1392
Ibn Hajar, Syihabuddin Abi al-Fadl Ahmad bin Ali al-’Asqalani, Tahzib al-Tahzib, juz 11, India: Dairat al-Ma’arif, 1327.
Ibn Hazm al-Thahiri, Abu Muhammad bin Ahmad bin Sa’id, Asma’ al-Shahabah al-Ruwah, .Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah, 1412/1992.
Ibn Majah, Sunan Ibn Majah., juz 2, Indonesia: Maktabah Dahlan, tt. 
Ibn Qudamah,  alMughni,  juz 8,
al-Ishfahani, al Raghib al-, Mufradat Alfaz Al-Qur'an, Beirut: Al-Dar al-Syamiyah, 1412/1992.
Khalid, Khalid Muhammad, Rijal Haul al-Rasul, Beirut: Dar  al-Fikr, tt.
al- Kha¯³b, Mu¥ammad ‘Ajj±j, U،­l al-¦ad³£ ‘Ul­muh wa Mu،¯ala¥uh, (Beirut: D±r al-Fikr, 1979 M/ 1409 H
Muslim, Shahih Muslim,
Nasa’i, Sunan Al-Nasa’i,
Syahrastani, Abu al-Fath Muhammad bin Abd al-Karim bin Abi Bakr Ahmad al-, al-Milal wa al-Nihal, juz 1, Mesir: Mustafa al-Bab al Halabi wa Auladuh, tt.
al-Tirmizi, Sunan al-Turmuzi,
al-Zahab³, juz 5,
al-Zarqani, al- Muwaththa’ li al-Zarqani, juz 2