Indahnya Ketentuan Islam ttg Orang Tua dan Anak

Pada awalnya, semua anak perempuan harus mengikuti semua kemauan orang tuanya. Ironisnya, dalam kitab Fiqh masih dikenal istilah mujbir untuk bapak dan kakek

Penerimaan Hadis Ahad oleh Imam Mazhab Fiqh

Dari segi wurudnya, hadis ahad tersebut dikategorikan zhanni al-wurud. Zhanni wurud pada hadis ahad ini disebabkan oleh karena hadis ahad diriwayatkan oleh periwayat yang jumlahnya tidak mendatangkan keyakinan tentang kebenarannya.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Baitullah Impian Setiap Muslim post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Baitullah Impian Setiap Muslim

Tempat Khusus yang Penuh Berkah

Minggu, 08 Juni 2014

Mengaku Muslim, Jangan Sakiti Orang dengan Lidah dan Tangan

A. Pendahuluan
             Muslim menurut arti leksikal adalah orang yang dapat memberikan keselamatan. Dengan demikian, idealnya seorang muslim dapat menjaga dirinya dari sesuatu yang dapat menimbulkan sesuatu yang tidak baik bagi yang lain.  Begitu juga, muslim dengan segala sikap dan aktifitasnya seharusnya dapat memberikan keselamatan bagi banyak orang dan bahkan ciptaan Allah yang lain.
Indikator dari mukmin adalah mencintai orang lain  layaknya ia mencintai dirinya.  Dalam situasi apapun tidak ada seorang pun yang mau dirinya diganggu atau disakiti oleh orang lain baik pisik atau hatinya.  Orang akan merasa tidak aman dan tidak nyaman apabila ada pihak yang menteror, mengintimidasi atau pun berlaku tidak baik terhadap diinya.  Artinya semua orang menginginkan perlakuan baik dari orang lain.
Ajaran Islam sebagai ajaran yang sesuai dengan sifat-sifat kemanusiaan itu telah memberikan tuntunan dan tuntutan dalam tata cara pergaulan dengan sesama muslim, salah satunya adalah hadis berikut:
عن عبدالله بن عمر عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده والمهاجر من هاجر ما نهى الله عنه[1]
       Abdullah  bin ‘Umar menyatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:”Orang Islam adalah orang yang menyelamatkan orang Islam lainnya dari lidah dan tangannya. Orang yang hijrah adalah orang menjauhi larangan Allah.

B. Penjelasan Hadis
Kata muslim terambil dari kata salama yang salah satu  artinya adalah selamat atau membuat orang lain selamat..  Berangkat dari arti kata ini orang Islam adalah orang yang selamat dari segala yang dapat merugikan dirinya di dunia atau pun di akhirat, dan ia juga membuat orang lain selamat dari tindakannya. Artinya orang Islam adalah orang yang tidak mengorbankan keselamatan atau kesejahteraan orang lain untuk mewujudkan keselamatan dan kesejahteraan dirinya
Hadis ini menjelaskan bahwa ciri muslim adalah orang yang dapat membuat orang lain selamat dari ketidakbaikan lidahnya atau pun tindakannya.  Maksudnya, muslim adalah orang yang mampu menjaga lidah dan tindakannya dari sesuatu yang dapat menyakitkan, merugikan dan menjatuhkan orang lain. 
Dalam hadis di atas ada kata لسان yang berarti lidah atau ucapan. Lisan meskipun sepertinya tidak mempunyai  kekuatan seperti tangan, namun banyak sekali perbuatan lisan yang dapat menimbulkan bahaya yang lebih besar dibandingkan dengan bahaya yang ditimbulkan oleh tangan.   
Bahaya lisan seperti memprovokasi, memfitnah, menggunjing, mengadu domba, dan membuka aib seseorang kepada orang lain yang dapat menimbulkan efek yang lebih besar bahkan akan mempunyai bekas yang lebih lama dari perbuatan tangan.. Makanya, semua perbuatan lidah yang dapat menimbulkan kerugian orang lain ini secara eksplisit dilarang oleh Allah dan Rasul dalam nash Alquran dan hadis. 
Oleh sebab itu, idealnya seorang muslim tidak akan melakukan provokasi yang dapat memicu munculnya prilaku anarkhis. Ia tidak akan memfitnah dan tidak menggunjing orang lain yang dapat mencemarkan nama baik orang tersebut . Ia tidak akan mengadu domba antara orang-orang  yang berbeda inspirasi dan kepentingan untuk mencapai kepentingannya sendiri. Dia tidak akan mengambil keuntungan dari situasi yang tidak baik, seperti kata pepatah: “tidak menangguk di air keruh”.
Begitu juga di dalam hadis terdapat kata يد  artinya tangan atau kekuasaan. Banyak kegiatan tangan yang dapat menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi orang lain, misalnya perbuatan tangan yang berhubungan harta seperti    korupsi, mencuri, menipu, dan yang sejenisnya. Atau  yang berhubungan dengan  diri dan perasaan, seperti berbuat keonaran dengan menyakiti pisik seperti memukul, menampar dan memperkosa atau berbuat huru hara yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Oleh sebab itu, idealnya seorang  muslim    tidak akan mengambil hak orang lain dengan cara yang tidak benar. Ia tidak akan menggagu ketentraman orang lain, tidak menganiaya, dan tidak merendahkan orang lain. Semua tindakan ini dilarang secara eksplisit dalam nash Alquran dan hadis dan bahkan ada yang diancam dengan hukuman (had)

Dapat dipahami bahwa orang muslim adalah orang yang dapat menimbulkan rasa aman bagi orang lain .  Dengan lidahnya, orang  lain mendapatkan  kesejukan batiniah dan nasehat yang berguna.  Misalnya ia menyampaikan pesan yang dapat menenangkan perasaan yang resah.  Begitu juga dengan tindakannya, orang lain merasa terlindungi  dan bahkan dapat mendatangkan keuntungan dan kesejahteraan terhadap orang lain, misalnya ia membantu mengentaskan kemiskinan  dengan sebagian harta yang dimilikinya.
Oleh sebab itu, dalam hadis diiringi dengan pernyataan penutup bahwa orang yang sebenarnya berhijrah adalah orang yang dapat meninggalkan larangan Allah.  Diketahui bahwa larangan Allah itu selalu berhubungan dengan perbuatan yang dapat mendatangkan kerugian baik bagi pelakunya maupun bagi orang lain yang menjadi objek kegiatan tersebut.


[1] al- Bukhari, kitab iman, dan riqaq, Muslim, kitab iman, al-Darimi, kitab ath’imah, dan Ahmad bin Hanbal, bandingkan dengan al- Bukhari, kitab adab, Muslim, kitab al-Luqthah,  al-Turmuzi, kitab al-bir wa al-Shilah, al-Darimi, kitab ath’imah

BADAL HAJI SESUAI TUNTUNAN RASULULLAH SAW.

A.    Pendahuluan
Realitas yang terjadi saat ini, berdasarkan informasi dari jamaah yang membadalkan hajinya atau orang tuanya atau suaminya atau keluarganya yang lain. Ibadah haji sebagai rukun Islam yang ke lima dibadalkan oleh orang lain yang ada di tanah suci, oleh pembimbing manasik haji yang mendampingi jamaah bimbingannya ke tanah suci atau oleh anak, suami atau isteri atau orang tuanya. Bahkan ada informasi penerima badal membadalkan haji beberapa orang dalam waktu yang bersamaan. Dari fenomena tersebut muncul beberapa pertanyaan dari jamaah pengajian tentang hukum membadalkan haji dan bagaimana caranya yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

B.     Pembahasan
Keinginan umat Islam untuk melaksanakan haji sangat tinggi. Namun ada sebagian orang yang tidak dapat atau tidak sanggup melakukannya.  Oleh sebab itu, ada upaya untuk menunaikan kewajiban orang tua atau saudara atau suami/ isteri(badal).

Badal haji menjadi menarik untuk dibahas  karena realitasnya berbagai cara badal haji yang dilakukan olh umat Islam.  Untuk meluruskan pemahaman perlu diperhatikan tuntunan Rasulullah tentang badal haji dimaksud. Bagitu juga dalam beberapa ayat terdapat beberapa penjelasan Allah bahwa orang hanya akan mendapatkan sesuatu dari Allah atas usahanya sendiri .
            Diantara dalil al-Qur’an yang menjelaskannya adalah:

286. … ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa):

54. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.
38. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,
39. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya
           
            Ada juga hadis Rasul yang mengungkap bahwa ketika manusia telah meninggal, maka terputus semua amalannya, kecuali yang dulu sedah dilakukannya (amal jariayah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُو لَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
Al-Tirmizi, Muslim washiyyat, al-Nasai , Abu Daud Ibn Majah, Al-Darimi, kitab Muqaddimah

Abu Hurairah menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: apabila manusia meninggal, maka terputus amalannya kecuali dari3 (tiga) hal, yaitu: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak saleh

                Apabila diperhatikan  dalil hadis yang membolehkan badal haji, bukan berarti ada pertentangan yang memberikan pemahaman tidak konsisten.  Tetapi ada beberapa hal yang secara inplisit tidak dapat dipahami oleh kita.
Diantara hadis yang memberikan penjelasan adalah:

Penyebab boleh Badal Haji

1.      Tidak sanggup melakukannya karena tua dan tidak sanggup di perjalanan
Berdasaraka hadis:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ
(H.R. al-Bukhari, juz 1, h. 710, Muslim, juz 2, h. 973 dan 974; al-Tirmizi, juz 2, h. 203-204; (2 hadis); al-Darimi, juz 2, h. 40-41 (5 hadis); Ibnu Majah juz 2, h. 970; Abu Daud juz 2, h. 161-162; al-Nasa’i. juz 5, h. 117)
Dari putra-putra Abbas (Abdullah dan al-Fadhl) pada waktu haji wada’ seorang wanita dari suku Khats’am bertanya: Ya Rasulullah haji itu telah diwajibkan Allah kepada hambanya, tapi bapakkku sudah sangat tua dan tidak sanggup untuk melaksanakan haji apakah aku harus menghajikannya ? Rasul menjawab: Ya.
2.      Karena nazar yang sudah diungkapkan tapi belum sempat ditunaikan sampai mati
Berdasarka Hadis
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ
(H.R. al-Bukhari, juz 1, h. 709-710; al-Nasa’i. juz 5, h. 116; al-Darimi, juz 2, h. 183)
Dari Ibn ‘Abbas seorang perempuan dari suku Juhnah datang kepada Rasul bertanya: ibuku telah bernazar untuk melakukan haji, tetapi tidak melaksanakan haji sampai ia meninggal, apakah aku harus menghajikan ibuku ?.  Rasul menjawab: Hajikanlah ibumu, apakah kalau ibumu punya hutang kamu juga dituntut untuk membayarnya ?  Bayarkanlah, hak Allah lebih berhak untuk disempurnakan. 
3.      Karena telah meninggal

Berdasarakan Hadis:
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا قَالَ وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ
(H.R. Kitab al-Tirmizi juz 2, h. 205; al-Nasa’i. juz 5, h. 116; al-Darimi, juz 2, h. 41; Ibnu Majah juz 2, h. 969 bandingkan dengan Muslim kitab Shiyam no. 1939)
Buraidah menyatakan bahwa seorang perempuan datang kepada Rasul lalu bertanya: ibuku telah meninggal dan ia belum haji, apakah aku harus menghajikannya ? Rasul menjawab: Ya, hajikanlah ibumu !

Syarat yang akan membadalkan haji
1.      Anak perempuan yang akan membadalkan ibunya.
Berdasarkan Hadis:
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا قَالَ وَهَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ
(H.R. Kitab al-Tirmizi juz 2, h. 205; al-Nasa’i. juz 5, h. 116; al-Darimi, juz 2, h. 41; Ibnu Majah juz 2, h. 969 bandingkan dengan Muslim kitab Shiyam no. 1939)
Buraidah menyatakan bahwa seorang perempuan datang kepada Rasul lalu bertanya: ibuku telah meninggal dan ia belum haji, apakah aku harus menghajikannya ? Rasul menjawab: Ya, hajikanlah ibumu !

Anak perempuan yang akan membadalkan ayahnya.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ
(H.R. al-Bukhari, juz 1, h. 710, Muslim, juz 2, h. 973 dan 974; al-Tirmizi, juz 2, h. 203-204; (2 hadis); al-Darimi, juz 2, h. 40-41 (5 hadis); Ibnu Majah juz 2, h. 970; Abu Daud juz 2, h. 161-162; al-Nasa’i. juz 5, h. 117)
Dari putra-putra Abbas (Abdullah dan al-Fadhl) pada waktu haji wada’ seorang wanita dari suku Khats’am bertanya: Ya Rasulullah haji itu telah diwajibkan Allah kepada hambanya, tapi bapakkku sudah sangat tua dan tidak sanggup untuk melaksanakan haji apakah aku harus menghajikannya ? Rasul menjawab: Ya.
Anak laki-laki yang akan membadalkan ayahnya
عَنْ أَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلا الْعُمْرَةَ وَلا الظَّعْنَ قَالَ حُجَّ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ
(H.R. al-Tirmizi, juz 2, h. 204; al-Nasa’I, juz 5, h. 114-115; Abu Daud, juz 2, h. 162; Ibnu Majah, juz 2, h. 970 )
Abu Razin al-‘Uqaili mendatangi Rasul dan berkata: ya Rasulullah bapakku sudah sangat tua, tidak sanggup melaksanakan haji, dan umrah,  Rasulullah bersabda: Hajikanlah dan umrahkanlah bapakmu !
Bahkan ada anjuran anak laki-laki tertua dalam hadis:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ مِنْ خَثْعَمَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لا يَسْتَطِيعُ الرُّكُوبَ وَأَدْرَكَتْهُ فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ فَهَلْ يُجْزِئُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ آنْتَ أَكْبَرُ وَلَدِهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَيْهِ دَيْنٌ أَكُنْتَ تَقْضِيهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَحُجَّ عَنْهُ
(H.R. al-Nasa’i, juz 5, h. 120; al-Darimi, juz 2, h. 41 dan Ahmad bin Hnabal, Awwal Musnad al-Madaniyyin no. 15520 dan 15540)  
Abdullah bin Zubair menyatakan seorang alki-laki dari suku Khats’am bertanya: bapakkku sudah sangat tua dan tidak sanggup untuk melaksanakan haji, padahal haji itu telah diwajibkan Allah kepada hambanya, apakah aku harus menghajikannya ? Rasul bertanya: apakah anda anak lakai-laki tertua ? ia menjawab: Ya, Ya Rasulullah. Rasul  bertanya apakah kalau bapakmu punya hutang kamu juga dituntut untuk membayarnya ?  ia menjawab: Ya. Rasul bersabda: hajikanlah bapakmu !
2.      Saudara laki-laki atau perempuan yang akan membadalkan saudaranya.
Berdasarkan Hadis:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي
(H.R. Abu Daudjuz 2, h. 162; Ibn Majah juz 2, h. 969)
Dari Ibn ‘Abbas, bahwa Rasul mendengar seorang laki-laki berkata: hajikan Syubramah, Rasul bertanya: siapa Syubramah, ia menjawab: saudara laaki-lakiku
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ فَأَتَى أَخُوهَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أُخْتِكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَاقْضُوا اللَّهَ فَهُوَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ
(H.R. al-Bukhari, kitab aaiman wa al-nazar, no. 6205; al-Nasa’I, juz 5, h. 116; Ahmad bin Hanbal, Musnad Bani Hasyim, no. 2033)
Dari Ibn ‘Abbas seorang perempuan telah bernazar untuk melakukan haji, tetapi tidak melaksanakan haji sampai ia meninggal lalu saudaranya datang kepada Rasul dan bertanya tentang masalah itu. Rasul menjawab: apakah kalau saudaramu punya hutang apakah kamu juga dituntut untuk membayarnya ?  ia menjawab; Ya, Rasulullah bersabda: Bayarkanlah, hak Allah lebih berhak untuk disempurnakan. 
3.      Sudah melaksanakan haji bagi dirinya
      Berdasarkan hadis:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي قَالَ حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ قَالَ لا قَالَ حُجَّ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ
(H.R. Abu Daudm juz 2, h. 162; Ibn Majah juz 2, h. 969)
Dari Ibn ‘Abbas, bahwa Rasul mendengar seorang laki-laki berkata: hajikan Syubramah, Rasul bertanya: siapa Syubramah, ia menjawab: saudara laaki-lakiku. Rasul bertanya: apakah kamu sudah melaksanakan haji ?, ia menjawab : belum ya Rasulullah.  Rasul bersabda: laksanakan haji untuk dirimu dulu, baru tahun berikutnya hajikan saudaramu
Ibadah haji bagi yang sudah memenuhi kewajiban haji wajib dilakukan. Bagi yang tidak dapat melakukannya karena uzur (sakit,atau tua) atau sudah meninggal, dinazarkan atau pun tidak maka:
  1. Dapat dilakukan oleh keluarganya (anak, atau  saudara laki-laki/ perempuan.
  2. Yang sebelumnya sudah pernah menunaikan ibadah haji .

Dalam hadis di atas tidak dapat haji itu dibadal oleh orang yang tidak memiliki hubungan kekeluargaan (nasab)
 Namun ada pendapat ulama yang membolehkan haji dibadalkan oleh orang lain yang sudah haji.
Sedangkan untuk orang yang menerima badal untuk banyak orang tentu saja tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah karena badal haji hanya dapat dilakukan oleh seseorang untuk satu orang saja.

TITIPAN

A.    pendahuluan
Menitipkan atau menerima titipan merupakan sesuatu yang dapat dilakukan atau diterima oleh siapapun. Banyak faktor yang menyebabkan orang menitipkan barangnya kepada orang lain, yang kadang sulit untuk dihindari. Bahkan pada akhir-akhir ini bentuk titipan semakin bervariasi, Misalnya, ketika seseorang pergi meninggalkan rumahnya untuk waktu tertentu, dan ia sulit untuk menjaga barangnya, lalu ia menitipkan penjagaan kepada orang lain, atau adanya deposit box untuk menjaga barang-barang berharga dengan bayaran yang sangat jelas, atau nasabah bank yang menitipkan uangnya di bank. Dikatakan menitipkan karena ia dapat mengambil uangnya kapan saja.
Dalam titipan terjadi pemindahan kewajiban/tanggung jawab menjaga barang dari pemilik barang kepada penerima titipan. Terjadinya pemindahan tanggung jawab akan beresiko bagi kedua belah pihak (penitip dan penerima titipan) apabila tidak ada aturan yang jelas. Oleh sebab itu, dalam Islam ada aturan khusus mengenai titipan ini.
Wadi’ah atau titipan adalah sesuatu  barang atau yang lainnya ditempatkan oleh pemiliknya di tempat orang lain untuk dipelihara.  Titip adalah menaruh barang dan sejenisnya supaya disimpan/dirawat/ disampaikan kepada orang lain.
Dasar titip terdapat dalam Q.S. al-Nisa’/4: 58
إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها ... إن الله كان سميعا بصيرا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya... Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Juga terdapat dalam Q.S. al-Baqarah/2: 283
... فإن أمن بعضكم بعضا فليؤد الذي اؤتمن أمانته وليتق الله ربه ... والله بما تعملون عليم 
...Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanahnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; ... dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

B.     Ketentuan dalam Wadi’ah
Ada beberapa hadis yang berkaitan dengan wadi’ah ini akan tetapi sebagian hadis yang dijadikan dasar berkualitas da’if. Hadis yang berkualitas hasan di bawah ini :
عن أَبَي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أد الامانة الى من أتمنك ولا تخن من خانك [1]
Abu Hurairah menytakan bahwa Rasulullah SAW. pernah bersabda: Tunaikan amanah kepada orang yang memberikan kepercayaan kepadamu dan jangan engkau mengkhianati orang yang telah mengkhianatimu
Berdasarkan hadis di atas, wadi’ah/ titipan merupakan amanah yang harus dijaga oleh penerima sampai titipan itu dikembalikan kepada pemiliknya. Apabila seseorang menerima titipan dari orang lain, maka ia mempunyai tanggung jawab untuk memelihara dan menjaga barang tersebut sampai diambil kembali oleh yang menitipkan.
Karena titipan ini merupakan kepercayaan dan orang yang dititipi juga biasanya orang yang dipercaya oleh penitip, maka landasan dari titipan ini adalah kepecayaan. Dalam realitas hari ini, praktek penitipan dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu titipan tanpa bayar (dasar kepercayaan) saja dan titipan dengan pembayaran tertentu.
Realitas penitipan yang ada saat ini tentu saja mempunyai konsekwensi yang berbeda terhadap batasan tanggung jawab yang harus dipikul oleh penerima titipan. Apalagi jika barang titipan tersebut mempunyai kemungkinan ada resiko yang muncul di luar dugaan penerima titipan, misalnya rusak (bukan karena dipakai), hilang dan sebagainya.
Sangat tidak adil ketika penerima titipan yang hanya didasari kepercayaan, menolong orang untuk menjaga miliknya, ia telah menerima tanggung jawab menjaga barang titipan, kemudian juga harus bertanggung jawab terhadap resiko yang muncul bukan karena kelalaian atau kesengajaannya.
Tentang batas tanggung jawab penerima titipan dapat diperhatikan ketentuan yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW. dalam hadis berikut:
عن سمرة عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  على اليد ما أخذت حتى تؤديه [2]
Samurah menyatakan Rasulullah SAW.  bersabda: orang yang menerima sesuatu, mempunyai tanggung jawab menjaganya sampai ia menyampaikannya kepada yang berhak menerima.
 Berdasarkan hadis di atas, penerima titipan mempunyai tanggung jawab menjaga atau memelihara titipan sampai yang punya mengambilnya.  Tanggung jawab dalam hadis di atas memberikan indikasi bahwa ia menjaga dari kerusakan seperti menjaga miliknya, namun ia tidak mempunyai hak terhadap barang itu, kecuali telah ada izin dari pemilik. Apabila barang yang dititipkan berupa motor, misalnya maka penerima titipan punya tanggung jawab menjaga agar motor itu terlindung dari sesuatu yang dapat menimbulkan kerusakan, tidak hilang dan tidak digunakan oleh anaknya. Penerima titipan tidak mempunyai tanggung jawab mengganti kerusakan yang ditimbulkan oleh hal yang ditimbulkan oleh lamanya penyimpanan misalnya.
Apabila barang titipan tersebut diberi izin untuk dipakai, maka penerima titipan yang menggunakan barang titipan bertanggung jawab untuk mengganti kerusakan yang timbul akibat pemakaian barang titipan tersebut.
Begitu juga sebaliknya, apabila barang titipan yang dipakai oleh penerima titipan mendatangkan hasil, maka penitip harus mendapatkan bagian dari hasil tersebut, walaupun tanpa adanya kesepakatan sebelumnya. Seperti yang dilakukan oleh Bank sistem Syari’ah yang menerima titipan uang dengan sistem wadhi’ah al-yad al-dhaminah (titipan dengan resiko mengganti rugi). Apabila dari uang yang dititipkan itu mendatangkan keuntungan dengan bagi hasil uang yang dipakai oleh nasabah bank, maka BMI memberikan bonus 25 %  dengan minimal titipan satu juta.
Pada prinsipnya, titipan didasarkan pada amanah, namun dikalangan fuqaha’ ada pembahasan tentang amanah mempunyai kemungkinan dapat berubah menjadi ganti rugi dengan catatan:
1.      Barang itu tidak dijaga dan dipelihara oleh penerima titipan. Misalnya, ketika ada yang merusak barang didepan nya kemudian ia mendiamkan saja, pada hal ia bias melarangnya
2.      Barang titipan itu dititipkan lagi kepada pihak lain. A sebagai penerima titipan dari Z, dengan alasan yang tidak jelas A menitipkan barang Z kepada C, jika terjadi kerusakan maka A harus mengganti rugi
3.      Barang tersebut dimanfaatkan oleh penerima titipan.
4.      Penerima titipan mengingkari adanya titipan di tangannya.
5.      Penerima titipan mencampurkan titipan orang dengan harta pribadinya sehingga susah untuk memisahkannya, seperti menerima titipan padi kemudian dicampur dengan padinya sendiri.
6.      Penerima tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan sebelumnya oleh kedua belah pihak.
Titipan amanah juga dapat berubah menjadi ḍaman apabila penerima titipan menerima bayaran terhadap pemeliharaan titipannya seperti membayar pada pemilik box deposit untuk menjaga barang berharga yang dititipkan kepadanya. Apabila barang titipan rusak apalagi hilang, maka penerima titipan harus mengganti rugi.


[1]  Hadis riwayat Abu Dawud, juz 3, h. 290, no. 3534 dan 3535,  dan al-Tirmizi, juz 2, h. 368 hadis no. 1282, al-Darimi, juz 2, h. 264, dan Ahmad ibn Hanbal, juz 3, h. 414.
[2]  Hadis riwayat al-Turmuzi, juz 2, h. 368-369, Menurut al-Turmuzi, kualitas hadis ini Ḥasan Ṡaḥiḥ, al-Darimi, juz 2, h. 264, Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibn Majaṯ, dan Ahmad ibn Hanbal